Putra Mantan Pemimpin Libya Tewas Dibunuh Geng Bersenjata, Dunia Tunggu Klarifikasi Resmi

0
Libya
Saif Al Islam Qaddafi. Foto : cnn

NARASITODAY.COM, TRIPOLI – Bayang-bayang dinasti Khadafi di Libya kian pudar setelah Saif Al Islam Khadafi, putra mendiang diktator Muammar Khadafi, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan berdarah di Kota Zintan, Senin (2/2/2026). Pria berusia 53 tahun yang pernah digadang-gadang sebagai calon pemimpin masa depan Libya itu, menemui ajalnya di tangan kelompok bersenjata misterius.

Kematian sosok yang paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti setelah ayahnya ini dikonfirmasi oleh kepala tim politiknya pada Selasa (3/2/2026), memicu guncangan baru di tengah stabilitas politik Libya yang masih rapuh.

Suasana di kediaman Saif di Zintan mendadak mencekam pada Senin siang. Berdasarkan keterangan pengacaranya dari Prancis, Marcel Ceccaldi, sebuah operasi rapi dilakukan oleh kelompok terlatih untuk menghabisi nyawa kliennya.

Baca Juga :  PPATK Ungkap Kriteria Blokir Rekening, Fokus pada Pencegahan Tindak Pidana

“Dia (Saif) dibunuh hari ini pukul 14.00 di Zintan di rumahnya oleh empat orang komando,” ucap Ceccaldi kepada AFP.

Laporan media lokal menyebutkan bahwa kamera pengawas (CCTV) di lokasi kejadian telah dimatikan sesaat sebelum serangan berlangsung, mengindikasikan bahwa pembunuhan ini telah direncanakan dengan matang. Meski begitu, hingga kini identitas pelaku maupun dalang di balik serangan tersebut masih gelap.

Misteri masih menyelimuti detail kematian Saif. Sementara koresponden Al Jazeera, Ahmed Khalifa, menyebut Saif tewas ditembak, versi lain muncul dari saudara perempuan Saif yang mengklaim saudaranya mengembuskan napas terakhir di dekat perbatasan Libya-Aljazair.

Baca Juga :  Diduga Rem Blong Truk Tambang di Parungpanjang Seruduk Bangunan Warung, Begini Kronologisnya

Di tengah kesimpangsiuran ini, Milisi Brigade Tempur 444 telah mengeluarkan pernyataan tegas membantah keterlibatan mereka dalam insiden tersebut. Kantor Jaksa Agung Libya pun segera membuka penyelidikan resmi guna mengusut tuntas peristiwa yang mengakhiri hidup buronan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) itu.

Selama satu dekade (2000–2011), Saif adalah “pangeran mahkota” de facto yang memegang kendali besar meski tanpa jabatan resmi. Namanya mulai redup saat pemberontakan tahun 2011 pecah, yang berakhir dengan tewasnya sang ayah di tangan pemberontak yang didukung NATO.

Baca Juga :  Mengguncang Koalisi Pemerintah, Dua Mantan Menteri Malaysia Resmi Mundur dan Gabung Partai Baru

Saif sempat mencicipi dinginnya sel penjara Zintan selama enam tahun setelah tertangkap saat mencoba melarikan diri dari Tripoli, sebelum akhirnya dibebaskan lewat amnesti umum pada 2017. Sejak saat itu, ia hidup dalam persembunyian namun tetap memelihara ambisi politik untuk mengembalikan pengaruh keluarganya.

Kini, dengan tewasnya Saif, sejarah panjang klan Khadafi di panggung politik Libya seolah menemui titik akhir. Ia pergi dengan membawa beban tuduhan kejahatan kemanusiaan dan penyiksaan yang belum sempat ia pertanggungjawabkan di hadapan hukum internasional.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com