NARASITODAY.COM, TEHERAN – Malam Teheran yang benderang oleh kembang api perayaan resmi, sebuah suara lain merayap dari balkon-balkon gelap dan gang-gang sempit. Selasa (10/2/2026) malam, saat Republik Islam bersiap memperingati puncak Revolusi 1979, kesunyian di beberapa sudut ibu kota pecah oleh slogan-slogan pembangkangan yang ditujukan langsung kepada pucuk pimpinan tertinggi.
Malam itu seharusnya menjadi momen persatuan nasional menyambut 22 Bahman hari jatuhnya rezim Shah dan lahirnya era Ayatollah Ruhollah Khomeini. Namun, di tengah kepungan kembang api, justru terdengar seruan yang menggugat sistem pemerintahan ulama tersebut.
Perlawanan dari Balon Rumah
Video yang beredar luas di kanal media sosial seperti Vahid Online dan Mamlekate menunjukkan segelintir warga yang naik ke balkon rumah mereka untuk menyuarakan kemarahan. Slogan-slogan tajam seperti “matilah Khamenei”, “matilah diktator”, dan “matilah Republik Islam” bergema di sela-sela perayaan resmi.
Meskipun AFP belum dapat memverifikasi rekaman tersebut secara independen, laporan senada juga muncul dari kota-kota besar lainnya. Menurut situs berita IranWire, teriakan serupa terdengar kencang dari pemukiman di Isfahan hingga Shiraz.
Di Sharak Ekbatan, sebuah kompleks perumahan besar di Teheran, situasi berubah menjadi konfrontasi suara. Media sosial melaporkan bahwa pihak berwenang segera mengirimkan pasukan keamanan ke lokasi tersebut untuk meredam teriakan protes dengan balasan slogan keagamaan.
Pasukan keamanan dikerahkan untuk balas meneriakkan “Allah Maha Besar” guna menenggelamkan suara-suara yang menentang pemerintah. Upaya ini dilakukan demi menjaga citra stabilitas menjelang pawai nasional yang dianggap krusial tahun ini, terutama di tengah meningkatnya ancaman intervensi militer dari Amerika Serikat.
Gelombang protes ini bukanlah fenomena baru. Iran telah diguncang demonstrasi berdarah sejak akhir Desember lalu, yang bermula dari keresahan atas krisis ekonomi namun dengan cepat bertransformasi menjadi tuntutan perubahan rezim. Bentrokan tersebut telah merenggut ribuan nyawa, termasuk warga sipil dan petugas keamanan.
Meski tindakan pengamanan kini diperketat secara ekstrem, kelompok hak asasi manusia menilai bara perlawanan belum sepenuhnya padam. Situs kelompok HAM yang berbasis di AS, HRANA, mencatat bahwa aksi pada Selasa malam tersebut memiliki makna simbolis yang mendalam.
Slogan-slogan yang digaungkan pada Selasa malam menandai “kelanjutan protes nasional meskipun suasana keamanan terkendali dan langkah-langkah pengendalian meluas.”
Kini, saat fajar 22 Bahman menyingsing, Iran berdiri di antara dua realitas: pawai megah dukungan pemerintah di jalan-jalan protokol, dan bisikan perlawanan yang terus berdenyut di balik pintu-pintu rumah warga.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














