NARASITODAY.COM, TEHERAN – Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hussein Kanani, menuduh Arab Saudi memiliki senjata nuklir yang sepenuhnya diketahui Amerika Serikat dan Israel. Tuduhan ini disampaikan dalam wawancara RT di tengah eskalasi ketegangan geopolitik Washington-Teheran soal program nuklir Iran.
Kanani mengaku mengutip intelijen Iran. “Ya, itu benar. Saat ini,” tegasnya, dikutip Kamis (12/2/2026), sambil menambahkan bahwa baik Israel maupun AS mengetahui hal itu secara penuh. Ia juga menuding Mossad dan CIA mendukung protes antipemerintah di Iran untuk “bukan hanya menggulingkan pemerintah tetapi untuk memecah belah Iran sepenuhnya dan mengeksploitasi situasi”.
Pernyataan ini muncul pasca-serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran Juni lalu, memicu demonstrasi besar. Presiden Donald Trump mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah, menuntut Iran batasi pengayaan uranium dan rudal balistik. Iran balas tingkatkan doktrin militer ofensif.
Kanani memperingatkan respons Iran jika diserang. “Jika Washington menyerang, langkah pertama Teheran mungkin tidak akan menargetkan pangkalan Amerika secara langsung. Rudal bisa diarahkan ke Israel sebagai gantinya,” katanya. Ia juga sebut penutupan Selat Hormuz mungkin tak terhindarkan sebagai tekanan strategis terhadap AS, meski tak ingin rugikan China atau Rusia.
Di balik tuduhan nuklir Riyadh yang belum diverifikasi, pernyataan Kanani menggambarkan permainan bayangan intelijen Timur Tengah, di mana program atom terselubung bisa mengubah keseimbangan kekuatan secara dramatis.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













