NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyinggung hilangnya “rasa malu” dan “kesopanan” pejabat publik, menyusul unggahan video rasis di akun media sosial Presiden Donald Trump. Dalam sebuah podcast, Obama mengatakan bahwa perilaku politik kini telah merosot ke tingkat yang “belum pernah kita lihat sebelumnya”.
Video yang menuai kecaman itu menampilkan klip yang menggambarkan Obama dan istrinya Michelle sebagai kera, diiringi lagu The Lion Sleeps Tonight. Unggahan tersebut sempat dibela Gedung Putih sebagai “kemarahan palsu”, sebelum akhirnya dihapus dan disalahkan pada seorang staf.
Reaksi Politik
Klip tersebut memicu kemarahan lintas partai. Senator Tim Scott, satu-satunya senator Republik berkulit hitam, menyebutnya sebagai “hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih ini.” Kritik juga datang dari sejumlah politisi Demokrat dan Republik senior.
Trump sendiri mengatakan kepada wartawan bahwa ia “tidak melihat” bagian video yang menampilkan keluarga Obama. Ketika ditanya apakah akan meminta maaf, ia menegaskan: “Saya tidak membuat kesalahan.”
Tanggapan Obama
Dalam podcast berdurasi 47 menit bersama podcaster liberal Brian Tyler Cohen, Obama menekankan bahwa mayoritas rakyat Amerika masih menganggap perilaku semacam itu “sangat mengganggu”. “Memang benar bahwa hal itu menarik perhatian. Memang benar bahwa itu mengalihkan perhatian,” ujarnya.
Namun ia menambahkan, saat berkeliling AS, ia masih bertemu dengan orang-orang yang “percaya pada kesopanan, keramahan, dan kebaikan.” Obama menggambarkan fenomena di media sosial sebagai “semacam pertunjukan badut” yang menunjukkan hilangnya standar moral pejabat publik.
“Dan yang benar adalah tampaknya tidak ada rasa malu tentang hal ini di antara orang-orang yang dulu merasa bahwa Anda harus memiliki semacam kesopanan dan rasa pantas serta rasa hormat terhadap jabatan, bukan? Itu telah hilang,” katanya.
Menariknya, dalam pernyataannya tersebut Obama sama sekali tidak menyebut nama Trump secara langsung.
Kontroversi ini menyoroti bagaimana media sosial kini menjadi panggung utama pertarungan politik, di mana batas antara hiburan, propaganda, dan ujaran kebencian semakin kabur. Sementara Gedung Putih berusaha meredam dampak unggahan itu, komentar Obama mencerminkan keresahan lebih luas tentang menurunnya standar etika dalam kepemimpinan publik.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














