NARASITODAY.COM, MOSKOW – Hamparan salju musim dingin Rusia yang membeku, sebuah anomali ekonomi muncul dari rak-rak sayur di supermarket. Mentimun, yang selama puluhan tahun menjadi pelengkap sederhana di meja makan rakyat, kini bertransformasi menjadi simbol kemewahan baru yang memicu keresahan politik dan kepanikan konsumen.
Data resmi menunjukkan harga rata-rata mentimun telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak Desember 2025. Kini, satu kilogram mentimun dibanderol di atas 300 rubel (sekitar Rp65.500), sebuah angka yang membuat sayuran hijau ini lebih mahal daripada buah impor eksotis seperti pisang.
Kenaikan harga ini bukan sekadar angka di atas kertas bagi warga seperti Svetlana. Di media sosial, para ibu rumah tangga hingga pensiunan membagikan foto label harga yang dianggap tidak masuk akal.
“Harga mentimun dan tomat sangat keterlaluan,” tulis seorang pengguna bernama Svetlana di media sosial. “Dahulu orang bilang telur itu ‘emas’. Sekarang mentimun lah yang ‘emas’.”
Sindiran serupa juga menggema di koridor parlemen. Sergei Mironov, pemimpin partai Rusia Adil, menggunakan istilah sarkasme untuk menggambarkan situasi ini sebagai kemunculan menu kelas atas yang dipaksakan kepada rakyat.
“Musim dingin ini, ‘makanan lezat’ baru telah muncul di toko-toko kita: mentimun,” kata Sergei Mironov seperti dikutip Reuters, Rabu (18/2/2026).
Mironov menolak alasan klise mengenai faktor musiman. Ia membandingkan fenomena ini dengan krisis pangan tahun lalu. “Mereka menggunakan penjelasan yang sama untuk kentang ‘emas’ tahun lalu, dan sekarang untuk mentimun ‘berlapis emas’. Apa yang seharusnya dilakukan orang? Hanya menerima bahwa mereka tidak mampu membeli makanan pokok?” tegasnya.
Krisis ini memaksa beberapa supermarket di wilayah Siberia untuk membatasi jumlah pembelian per pelanggan guna mencegah penimbunan. Sementara itu, sebuah surat kabar terlaris di Rusia meluncurkan inisiatif unik yang menggambarkan keputusasaan ekonomi: membagikan benih mentimun gratis agar warga bisa menanam sendiri di apartemen mereka.
Regulator antimonopoli Rusia kini telah mengirim surat teguran kepada produsen dan pengecer untuk meminta penjelasan atas lonjakan harga ini. Tekanan kian besar mengingat Rusia sedang bersiap menghadapi pemilihan parlemen, di mana isu isi dompet menjadi kerentanan bagi partai penguasa.
Janji Swasembada di Tengah Tekanan
Meskipun produsen optimis harga akan turun saat cuaca menghangat bulan depan, masyarakat tetap waswas. Inflasi umum telah naik 2,1% sejak awal tahun, dipicu oleh kenaikan PPN serta membengkaknya biaya utilitas dan bensin akibat tekanan ekonomi jangka panjang.
Yevgeny Popov, anggota parlemen dari partai penguasa, mencoba meredam suasana dengan meyakinkan publik bahwa Rusia adalah negara swasembada mentimun. Namun, di pasar-pasar tradisional yang dingin, janji swasembada tersebut belum mampu menurunkan angka-angka di label harga yang masih “berlapis emas” tersebut.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













