IMF Kritik Kebijakan Ekonomi China, Desak Fokus Konsumsi Domestik

0
China
Ilustrasi Bendera Tiongkok di Tiongkok. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Di koridor-koridor kekuasaan moneter global, sebuah peringatan keras baru saja diledakkan. Dana Moneter Internasional (IMF) melayangkan kritik tajam terhadap mesin ekonomi China di bawah kepemimpinan Xi Jinping, menyebut strategi Beijing saat ini telah memicu pemborosan domestik yang masif sekaligus menebar kerugian bagi mitra dagang di luar negeri.

Dalam tinjauan tahunan yang dirilis Rabu waktu setempat, IMF mendesak Beijing untuk segera menghentikan ketergantungannya pada ekspor besar-besaran dan mulai beralih memanjakan konsumen di dalam negerinya sendiri.

Reorientasi ke Konsumsi Domestik

IMF menilai China sedang berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Penurunan harga atau deflasi menghantui pasar domestik kata “deflasi” bahkan muncul lebih dari 60 kali dalam laporan tersebut sementara sektor properti masih lumpuh.

Baca Juga :  Warga China Tewas dalam Serangan AS-Israel ke Iran, Beijing Peringatkan Warganya

“Transisi menuju model pertumbuhan yang dipimpin oleh konsumsi harus menjadi prioritas utama,” tegas para direktur eksekutif IMF dalam pernyataan resminya dikutip dari Bloomberg dan Straits Times, Kamis (19/2/2026).

Lembaga tersebut menekankan bahwa tanpa transformasi budaya dan kebijakan, China akan terus terjebak dalam pertumbuhan yang tidak sehat. “Reorientasi model pertumbuhan China memerlukan transformasi kebijakan ekonomi dan budaya yang signifikan,” tambah laporan tersebut.

Salah satu poin paling krusial dalam laporan ini adalah sorotan terhadap surplus neraca berjalan China yang melonjak hingga 3,3% dari PDB pada 2025. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari proyeksi awal. IMF menduga hal ini didorong oleh depresiasi riil mata uang Yuan (RMB) yang membuat harga barang China sangat murah di pasar internasional, namun mencekik daya beli impor di dalam negeri.

Baca Juga :  Timnas Indonesia U-17 Siap Tampil Melawan Qatar Setelah Menang Dramatis atas China di Piala Asia U-17 2026

Namun, tudingan ini mendapat perlawanan sengit dari Beijing. Perwakilan China di dewan eksekutif IMF, Zhang Zhengxin, membantah bahwa ekspor mereka didorong oleh manipulasi mata uang.

“Pertumbuhan ekspor tahun 2025 terutama didorong oleh daya saing dan kapasitas inovasinya, serta adanya percepatan pengiriman barang akibat kebijakan perdagangan Washington,” ujar Zhang Zhengxin menanggapi kritik tersebut.

Beban Utang dan Bayang-Bayang Pelambatan

Meskipun mampu mencatat pertumbuhan PDB sebesar 5% pada tahun 2025, IMF memprediksi laju naga ekonomi Asia ini akan melambat menjadi 4,5% pada tahun 2026. Angka ini kian tertekan oleh beban utang pemerintah yang melonjak hingga mencapai hampir 127% dari PDB.

IMF juga menyoroti ketimpangan bantuan negara. China tercatat menggelontorkan subsidi industri hingga 4% dari PDB, angka yang jauh melampaui bantuan negara di Uni Eropa yang hanya sekitar 1,5%.

Baca Juga :  Ingin Lebih Sehat? Kenalan 7 Manfaat Olahraga Pound Fit yang Populer Sekarang

Untuk mengatasi kelesuan ini, IMF menyarankan langkah yang lebih berani:

  • Stimulus Fiskal: Menggunakan pendanaan pemerintah pusat untuk menyelesaikan proyek properti yang mangkrak.
  • Fleksibilitas Nilai Tukar: Menyesuaikan nilai Yuan yang diperkirakan undervalued sekitar 16%.
  • Reformasi Struktural: Membangun kembali kepercayaan konsumen yang saat ini sedang merosot.

“Hal ini dinilai krusial untuk membangun kembali kepercayaan konsumen yang saat ini sedang merosot,” tulis IMF dalam laporannya.

Dunia kini menanti pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional China bulan depan, di mana Beijing akan merespons “resep” dari IMF ini melalui penetapan target ekonomi tahun 2026.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com