Serangan Udara Israel di Lembah Bekaa Tewaskan 10 Orang, Ancaman Gencatan Senjata Memanas

0
Lembah Bekaa
Ilustrasi bangunan rumah-rumah digaza yang sudah hancur. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BEIRUT – Langit Lembah Bekaa yang biasanya tenang mendadak pecah oleh dentuman ledakan pada Jumat malam. Serangan udara Israel yang menyasar wilayah Lebanon timur itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai 50 lainnya, menciptakan lubang menganga pada kesepakatan gencatan senjata yang baru seumur jagung.

Tragedi ini menjadi salah satu insiden paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir, mengancam stabilitas rapuh yang dimediasi oleh Amerika Serikat antara Israel dan Hezbollah.

Target di Jantung Bekaa dan Sidon

Militer Israel mengonfirmasi bahwa jet tempur mereka membidik pusat komando Hezbollah di wilayah Baalbek. Dalam pernyataan susulan pada Sabtu, Israel mengeklaim telah mengeliminasi anggota jaringan misil yang dituduh sedang mempersiapkan serangan.

Baca Juga :  Rayakan Prestasi dan Dedikasi, Reza Gladys dan Attaubah Mufid Membuat Penghargaan untuk Para Disabilitas

“Target tersebut diidentifikasi beroperasi untuk mempercepat kesiapan dan pembangunan kekuatan organisasi, sekaligus merencanakan serangan tembakan ke Israel,” tulis pernyataan militer Israel.

Tak hanya di timur, serangan juga menyasar kamp pengungsi Ain al-Hilweh yang padat penduduk di dekat Sidon. Israel menyebut lokasi itu sebagai pusat komando Hamas, namun klaim tersebut dibantah keras oleh kelompok tersebut. Hamas menyatakan lokasi yang hancur adalah milik Joint Security Force kamp yang bertugas menjaga keamanan warga sipil.

Baca Juga :  Rudy Susmanto Sampaikan Salam Hangat Presiden Prabowo Untuk Masyarakat Di Pesta Rakyat Bojong Koneng

Duka di Pihak Hezbollah

Hezbollah mengonfirmasi kehilangan besar dalam serangan di wilayah Bekaa tersebut. Melalui pernyataan resminya, kelompok itu mengumumkan bahwa delapan anggotanya gugur.

“Termasuk komandan Hussein Mohammad Yaghi, tewas dalam serangan Jumat di wilayah Bekaa,” ungkap perwakilan Hezbollah.

Kematian ini menambah panjang daftar pelanggaran yang saling dituduhkan oleh kedua belah pihak sejak kesepakatan gencatan senjata tahun 2024 diteken untuk mengakhiri setahun baku tembak di perbatasan.

Protes Keras Pemerintah Lebanon

Di Beirut, ketegangan politik meningkat seiring dengan kepulan asap di Bekaa. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, memberikan reaksi keras atas operasi militer yang menembus kedaulatan negaranya tersebut.

Baca Juga :  Menolak Tunduk pada Bayang-bayang Perang, FIFA Pastikan Iran Tetap Berlaga di Piala Dunia 2026 AS

Presiden Aoun mengecam serangan di wilayah Sidon dan Bekaa sebagai “pelanggaran baru” terhadap kedaulatan Lebanon dan pelanggaran kewajiban PBB. Ia juga meminta negara-negara pendukung stabilitas, termasuk Amerika Serikat, untuk bertindak nyata.

“Menekan penghentian segera guna mencegah eskalasi lebih lanjut,” tegas Aoun dalam seruannya kepada komunitas internasional.

Kini, Lebanon yang sudah terjepit krisis ekonomi dan politik harus kembali menahan napas. Di tengah puing-puing di Lembah Bekaa, warga hanya bisa berharap agar dentuman Jumat malam itu tidak menjadi lonceng pembuka bagi perang yang lebih besar.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com