NARASITODAY.COM, DEN HAAG – Di bawah langit abu-abu yang menyelimuti Istana Huis Ten Bosch, sejarah baru saja ditorehkan bagi Negeri Kincir Angin. Di hadapan Raja Willem-Alexander, seorang pria berusia 38 tahun mengucap sumpah yang mengubah arah politik nasional. Senin (23/2/2026) menjadi hari di mana Rob Jetten tidak hanya memecahkan rekor sebagai perdana menteri termuda dalam sejarah Belanda, tetapi juga sebagai kepala pemerintahan pertama yang secara terbuka mengidentifikasi diri sebagai gay.
Pelantikan Jetten menandai berakhirnya masa penuh gejolak setelah dominasi sayap kanan keras sempat mengguncang lanskap politik Eropa selama berbulan-bulan.
Kemenangan Mengejutkan atas Populisme
Keberhasilan Jetten memimpin Partai Demokrat 66 (D66) dalam pemilu Oktober lalu terbilang dramatis. Ia berhasil menyalip Partai Kebebasan (PVV) pimpinan Geert Wilders dengan margin yang sangat tipis. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri napas pemerintahan paling kanan dalam sejarah modern Belanda yang hanya bertahan selama 11 bulan.
Dalam pidato kemenangannya, Jetten mengirimkan pesan kuat kepada dunia internasional mengenai cara menghadapi gelombang populisme.
“Adalah mungkin untuk mengalahkan gerakan populis jika Anda berkampanye dengan pesan positif untuk negara Anda,” katanya, dilansir AFP.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk mengembalikan posisi tawar Belanda di kancah regional. “Membawa Belanda kembali ke jantung Eropa karena tanpa kerja sama Eropa, kita bukan apa-apa,” tambahnya.
Koalisi Minoritas dan Tantangan Parlemen
Pemerintahan baru ini merupakan hasil kongsi antara D66, partai tengah-kanan CDA, dan partai liberal VVD. Meski proses pembentukannya tergolong cepat hanya 117 hari dibanding 223 hari pada periode sebelumnya koalisi ini menghadapi tantangan besar di parlemen.
Dengan hanya mengantongi 66 kursi, kabinet Jetten kekurangan sembilan kursi untuk mencapai mayoritas mutlak. Hal ini membuat pemerintah akan sangat bergantung pada dukungan oposisi untuk meloloskan setiap kebijakan besar.
Sarah de Lange, profesor politik dari Universitas Leiden, menilai bahwa meski dipimpin tokoh tengah, kebijakan kabinet ini tetap memiliki nuansa kanan yang kental, terutama dalam hal fiskal dan imigrasi.
“Koalisi telah memilih pemotongan anggaran daripada menjalankan defisit untuk membiayai investasi yang ingin mereka lakukan,” kata De Lange kepada AFP. Ia juga menambahkan adanya “kontinuitas yang substansial antara rencana imigrasi pemerintah baru dan pemerintah sebelumnya.”
Nasib Geert Wilders dan Peta Kanan Baru
Di sisi lain, Geert Wilders harus menelan pil pahit. Setelah sempat berjaya pada 2023, perolehan kursi PVV merosot dari 37 menjadi 26 kursi. Seluruh partai koalisi kini menutup pintu bagi Wilders, mengasingkannya ke luar lingkaran kekuasaan.
Namun, ancaman sayap kanan belum sepenuhnya sirna. Partai-partai seperti Forum for Democracy yang dipimpin Lidewij de Vos (28) dan partai JA21 justru menunjukkan tren kenaikan kursi dengan narasi anti-imigrasi dan skeptisisme terhadap Uni Eropa. Hal ini diprediksi akan membuat perjalanan reformasi Jetten di parlemen menjadi jalan yang panjang dan berliku.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














