NARASITODAY.COM,KOLKATA – Sebuah kebijakan baru terkait isi piring makan siang siswa sekolah negeri di negara bagian Benggala Barat, India Timur, mendadak memicu badai politik dan kecemasan massal. Pemerintah daerah yang baru terpilih secara resmi menghapus menu telur dari program makanan gratis dan menggantinya dengan paket makanan vegetarian murni.
Mengutip laporan CNA, Selasa (14/7/2026), langkah radikal ini diambil setelah pemerintah nasionalis Hindu yang memenangkan pemilu regional pada Mei lalu menyerahkan mandat pengelolaan program makanan kepada sebuah yayasan keagamaan.
Keputusan ini seketika menghidupkan kembali perdebatan sensitif mengenai korelasi antara pangan, keyakinan iman, dan pemenuhan gizi anak di negara dengan populasi terbanyak di dunia tersebut.
Bagi anak-anak dari keluarga miskin di Benggala Barat, aroma telur rebus di kantin sekolah bukan sekadar menu makan siang, melainkan alasan utama mereka untuk tetap melangkah ke kelas. Kini, keceriaan itu dibayangi kekhawatiran dari para tenaga pendidik yang takut ruang kelas akan kembali sepi.
“Makan siang gratis telah menjadi salah satu daya tarik terbesar di sekolah dasar negeri. Para siswa akan datang dalam jumlah yang sangat besar pada hari-hari ketika menu telur disediakan,” ungkap Raja Dey, seorang guru sekolah negeri setempat.
Kekhawatiran Dey bukan tanpa alasan. Data historis dari negara bagian Karnataka tahun lalu membuktikan bahwa tingkat kehadiran siswa melonjak dari 93,5% menjadi 98,97% setelah distribusi menu telur diperluas menjadi enam hari seminggu.
Namun, sejak bulan lalu, Benggala Barat resmi menggandeng International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) atau gerakan Hare Krishna untuk menyajikan hidangan yang sepenuhnya berbasis tanaman.
Langkah ini langsung memantik kritik tajam dari kubu oposisi yang menuding pemerintah sengaja memanfaatkan program pendidikan untuk memaksakan ideologi tertentu. Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan PM Narendra Modi memang kerap mempromosikan paham vegetarian sebagai agenda nasionalis mereka, meskipun mayoritas umat Hindu di India tetap mengonsumsi daging dan ikan.
“Pemerintah BJP sedang mencoba memaksakan paham vegetarian kepada anak-anak sekolah,” kecam anggota parlemen dari partai oposisi TMC, Dola Sen, dalam sebuah pernyataan resmi.
Program makan siang sekolah di India sendiri diakui oleh PBB sebagai skema pemenuhan nutrisi terbesar di dunia yang berhasil mendongkrak angka partisipasi sekolah hingga 15% sekaligus menekan angka kekerdilan (stunting). Oleh karena itu, para pakar kesehatan masyarakat memperingatkan risiko besar di balik hilangnya protein hewani ini.
“Telur adalah standar emas untuk kualitas protein. Tanpa adanya informasi berbasis fakta, negara ini akan menghadapi krisis yang mengancam dalam hal hasil nutrisi dan kesehatan,” bantah Sylvia Karpagam, seorang dokter kesehatan masyarakat, sebagaimana dikutip oleh majalah Frontline.
Di sisi lain, pihak ISKCON menepis kekhawatiran tersebut. Mereka mengklaim bahwa olahan kedelai, keju pondok (cottage cheese), serta kacang-kacangan memiliki nilai gizi yang tidak kalah bersaing dengan telur.
“Kami akan memastikan bahwa nutrisi apa pun yang didapat anak dari telur akan dapat ditandingi atau bahkan dilampaui oleh protein dan vitamin berkualitas tinggi dalam makanan kami,” tegas Surovijoy Govinda Das, seorang anggota senior ISKCON.
Saat ini, sentimen negatif dan rumor bahwa pemerintah akan melarang peredaran daging serta ikan secara total terus menggelinding di tengah masyarakat Benggala Barat. Isu piring sekolah ini pun akhirnya bergeser ke ranah hukum.
Pengadilan Tinggi setempat telah resmi melayangkan perintah kepada pemerintah negara bagian untuk mengklarifikasi alasan penyerahan proyek ini kepada yayasan keagamaan, dengan persidangan lanjutan yang dijadwalkan digelar bulan depan.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














