NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kurma menjadi salah satu menu favorit saat berbuka puasa di bulan Ramadan. Namun belakangan, warganet ramai membahas kurma kemasan yang diketahui mengandung tambahan sirup glukosa, meski pada label berbahasa Indonesia hanya tertulis “kurma”.
Isu ini menimbulkan kekhawatiran, terutama karena sirup glukosa dinilai dapat memicu lonjakan gula darah jika dikonsumsi berlebihan saat berbuka. Lalu, bagaimana ciri-ciri kurma yang mengandung sirup glukosa?
Pakar Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Nuri Andarwulan, menjelaskan bahwa kurma berlapis sirup glukosa bisa dikenali dari tampilan fisiknya.
Secara visual, kurma dengan tambahan sirup glukosa biasanya tampak lebih lembap dan mengilap. Teksturnya cenderung lebih lengket dibanding kurma alami. Selain itu, rasanya juga jauh lebih manis karena kandungan gula yang lebih tinggi.
Dari sisi konsumsi, ia menyarankan agar kurma tetap dikonsumsi dalam jumlah wajar saat berbuka puasa, yakni sekitar 1–3 butir atau setara 5–20 gram. Sementara bagi penderita diabetes, konsumsi sebaiknya lebih dibatasi dan satu butir kurma sudah dinilai cukup.
Pendapat serupa disampaikan dokter spesialis penyakit dalam, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH. Menurutnya, kurma berlapis sirup glukosa masih relatif aman dikonsumsi oleh orang sehat, selama tidak berlebihan.
Namun, ia menyarankan masyarakat memilih kurma yang tidak terlalu mengilap. Kurma tanpa tambahan sirup glukosa umumnya memiliki tekstur lebih lembut dan tidak terlalu lengket. Selain itu, konsumen juga dianjurkan membeli kurma di tempat yang terpercaya dan memperhatikan label komposisi.
Dengan mengenali ciri-cirinya, masyarakat diharapkan bisa lebih bijak memilih kurma untuk berbuka puasa agar tetap aman dan menyehatkan. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth













