
NARASITODAY.COM, PYONGYANG – Sesaat setelah menghadiri Kongres Partai besar-besaran yang berlangsung setiap lima tahun sekali, Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un kembali menunjukkan wajah militanisme negaranya.
Dalam sebuah langkah yang mencerminkan determinasi baru, Kim mengawasi uji coba kapal perusak angkatan laut negaranya, sembari mengklaim bahwa Pyongyang sedang dalam proses krusial: mempersenjatai armada lautnya dengan senjata nuklir.
Laporan dari media pemerintah pada Kamis (5/3/2026) menggambarkan aksi tersebut sebagai bagian dari pembaharuan tujuan pembangunan militer, di mana Kim bersumpah untuk menanggapi segala ancaman dengan tegas.
Mengutip kantor berita KCNA, Kim Jong Un melakukan pemeriksaan pada hari Selasa terhadap sebuah kapal kelas “Choe Hyon”, salah satu dari dua kapal perusak berbobot 5.000 ton yang diluncurkan tahun lalu. Kapal ketiga dikabarkan masih dalam proses pembangunan.
Dalam pengawasannya itu, Kim menilai bahwa upaya memperkuat armada laut telah membuahkan hasil yang signifikan.
“Persenjataan Angkatan Laut dengan senjata nuklir menunjukkan kemajuan yang memuaskan,” kata Kim, menurut laporan KCNA.
Ia bahkan menilai capaian ini sebagai terobosan sejarah bagi pertahanan negaranya. “Semua keberhasilan ini merupakan perubahan radikal dalam mempertahankan kedaulatan maritim kita, sesuatu yang belum kita capai selama setengah abad,” tambahnya.
Keesokan harinya, Rabu, Kim kembali hadir untuk mengawasi langsung peluncuran rudal jelajah laut-ke-permukaan dari geladak kapal tersebut. KCNA melaporkan tes tersebut berjalan sukses.
Choe Hyon sendiri sebelumnya disebut-sebut dilengkapi dengan “senjata paling ampuh”, di mana beberapa analis meyakini kapal ini dapat dipasangi rudal taktis jarak pendek berkapasitas hulu ledak nuklir, meski Korut belum secara terbuka membuktikan kemampuan miniaturisasi senjata atomnya.
Sinyal dari Pyongyang di Tengah Gejolak Timur Tengah
Langkah militeristik Kim Jong Un ini tidak datang tanpa konteks. Aksi unjuk kekuatan ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang sedang memanas, di mana musuh bebuyutan Korut, Amerika Serikat (AS), sedang sibuk melancarkan serangan gabungan dengan Israel terhadap Iran. Serangan yang bertujuan melumpuhkan program nuklir dan militer Iran itu sebelumnya telah memicu kecaman keras dari Pyongyang.
Pekan lalu, Korut mengecap serangan AS-Israel tersebut sebagai “tindakan agresi ilegal” dan menuduh Washington bertindak “nakal”.
Mengamati dinamika ini, para pengamat melihat adanya korelasi strategis antara kegiatan militer Korut dengan konflik global yang sedang berkecamuk.
“Langkah terbaru Kim yang melibatkan kapal tersebut tampaknya dimaksudkan sebagai pamer kekuatan di tengah situasi Iran yang sedang berlangsung dan menjelang latihan militer gabungan Korea Selatan (Korsel)-AS yang akan datang,” ujar Yang Moo-jin, mantan presiden Universitas Studi Korut.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













