NARASITODAY.COM, TEHERAN – Di antara puing-puing kehancuran dan kepanikan pasca serangan mematikan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu, satu nama menjadi titik fokus kecurigaan yaitu Jenderal Esmail Qaani. Ia tercatat sebagai satu-satunya sosok yang selamat dari serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, bersama sejumlah pejabat tinggi lainnya. Fakta kelangsungan hidupnya kini mengantarkannya pada tuduhan pahit yaitu sebuah spionase atau mata-mata di lingkaran dalam kekuasaan.
Sebagai komandan Pasukan Quds sayap operasi luar negeri elit Garda Revolusi Iran (IRGC) yang bertanggung jawab mempersenjatai dan mengoordinasikan “Poros Perlawanan” Qaani seharusnya menjadi pilar utama pertahanan.
Namun, ketabihannya selamat dari serangan AS-Israel, ditambah fakta bahwa ia juga selamat dari dua serangan Israel di tahun-tahun sebelumnya, memicu pertanyaan besar yakini akankah ada pengkhianat di balik semua ini?
Bantahan Mossad dan Puing “Poros Perlawanan”
Kabar mengenai tuduhan mata-mata ini mendapat respons mengejutkan dari pihak yang diduga menjadi penerima informasi tersebut. Dinas intelijen Israel, Mossad, membantah keras tudingan bahwa Qaani adalah agen mereka.
Dalam sebuah pernyataan yang dimuat laman Turki En.Haberler, Mossad tegas menolak spekulasi yang telah beredar selama berbulan-bulan. “Ismail Qaani, komandan Pasukan Quds dari IRGC, bukanlah mata-mata kami,” ujar pernyataan Mossad.
Meski bantahan itu dilayangkan, interogasi dan kecurigaan terhadap Qaani tidak surut. Sejak menggantikan Jenderal Qassem Soleimani yang tewas pada 2020, rekam jejak kepemimpinan Qaani diwarnai oleh keruntuhan jaringan proksi regional.
Di bawah pengawasannya, “Poros Perlawanan” yang dibangun pendahulunya hancur berkeping-keping. Kepala politik Hamas Ismail Haniyeh dibunuh, dan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah tewas. Banyak sosok penting lainnya juga tereliminasi selama masa jabatannya.
Jejak Kematian yang Menghilang
Keanehan lain yang memperkuat narasi kecurigaan adalah pola “kemunculan kembali” Qaani. Selama perang Iran-Israel 12 hari tahun lalu, beberapa media sempat melaporkan kematiannya. Namun, ia tiba-tiba muncul ke publik dalam perayaan di Teheran akhir Juni 2025, mengenakan pakaian sipil dan topi baseball dalam keadaan sehat.
Pola serupa terjadi pada Oktober 2024 yaitu ia dinyatakan tewas, lalu dilaporkan diinterogasi, sebelum akhirnya muncul kembali di televisi pemerintah. Menambah keganjilan, Israel menerbitkan daftar pejabat Iran yang ingin mereka singkirkan. Akhir pekan lalu, daftar itu dinyatakan “lengkap”, namun nama Qaani tidak tercantum di dalamnya.
Di tengah vacuum informasi resmi, rumor liar beredar di media sosial dan laporan internasional. The National melaporkan adanya klaim bahwa Qaani telah ditangkap, diinterogasi, atau bahkan dieksekusi.
Sebuah akun di platform X yang dimuat The National pada Kamis (5/3/2026) menulis dengan tegas, “Esmail Qaani, kepala Pasukan Quds Iran telah dieksekusi oleh IRGC.”
Akun tersebut menyoroti ironi nasib komandan itu. “Dia telah selamat dari semua upaya pembunuhan sejauh ini… bahkan bersama Khamenei selama pemboman AS-Israel ia berhasil melarikan diri,” tambah laman itu.
Lebih jauh, klaim itu mengaitkan nasib Qaani dengan dugaan pengkhianatan. “Sebelumnya, dia ditahan oleh IRGC karena dicurigai sebagai agen Mossad.”
Hingga berita ini diturunkan, kebisingan rumor tersebut belum mendapat penjelasan. Pemerintah Iran dan IRGC masih membungkam, tidak memberikan klarifikasi resmi mengenai nasib Jenderal Qaani yang kini terjebak di antara citra loyalitas dan bayang-bayang pengkhianatan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














