NARASITODAY.COM, TEHERAN – Langit Teheran yang mulai pekat pada Kamis (8/1/2026) malam, ribuan orang mulai memadati sudut-sudut ibu kota sejak pukul 20.00 waktu setempat. Namun, di saat teriakan kemarahan atas melonjaknya biaya hidup menggema di jalanan, layar ponsel warga perlahan kehilangan sinyal. Iran kembali jatuh ke dalam “kegelapan digital“.
Lembaga pemantau internet, NetBlocks, melaporkan adanya pemutusan akses internet secara luas di seluruh negeri. Langkah ini terjadi tepat saat ketegangan antara warga dan aparat mencapai titik didih akibat krisis ekonomi yang mencekik.
NetBlocks menyatakan bahwa pemadaman ini merupakan “serangkaian langkah sensor digital yang makin meningkat yang menargetkan protes di seluruh negeri dan menghambat hak publik untuk berkomunikasi pada saat yang sangat krusial.”
Langkah drastis ini dinilai sebagai upaya pemerintah untuk membatasi arus informasi keluar-masuk Iran, di tengah laporan jatuhnya korban jiwa. Berdasarkan data yang dihimpun AFP, setidaknya 21 orang termasuk anggota keamanan tewas sejak protes pecah pada akhir Desember lalu.
Situasi di lapangan menunjukkan kontras yang tajam di tingkat elite pemerintahan. Presiden Masoud Pezeshkian sempat menyerukan agar aparat keamanan bertindak dengan “penahanan diri sepenuhnya.”
Namun, seruan itu seolah tenggelam oleh sikap keras Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang menyatakan bahwa para perusuh harus “ditempatkan pada tempatnya.” Senada dengan itu, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei menuduh demonstran digerakkan oleh kepentingan asing.
“Jika ada yang turun ke jalan untuk kerusuhan atau menciptakan ketidakamanan, atau mendukung mereka, maka tidak ada lagi alasan bagi mereka,” tegas Mohseni-Ejei. Ia menambahkan bahwa para pengunjuk rasa kini “beroperasi sejalan dengan musuh-musuh Republik Islam Iran.”
Sentuhan represif aparat dilaporkan meluas hingga ke dalam institusi kesehatan. Amnesty International mengungkapkan laporan mengerikan di Rumah Sakit Imam Khomeini, kota Ilam, di mana aparat diduga menembakkan gas air mata dan menyerang tenaga medis untuk menangkap demonstran yang terluka.
“Pasukan keamanan Iran harus segera menghentikan penggunaan kekerasan dan senjata api yang melanggar hukum terhadap para demonstran… dan menghormati kesucian fasilitas medis,” tulis pernyataan resmi Amnesty.
Perbandingan Sikap Tokoh
| Tokoh/Lembaga | Posisi/Sikap Utama | Kutipan Kunci |
| Presiden Pezeshkian | Moderat / Persuasif | “Penahanan diri sepenuhnya.” |
| Ketua MA Mohseni-Ejei | Garis Keras | “Tidak ada lagi alasan bagi mereka.” |
| PBB (Antonio Guterres) | Perlindungan HAM | “Semua individu harus diizinkan untuk berunjuk rasa secara damai.” |
| NetBlocks | Teknis/Kebebasan Informasi | “Menghambat hak publik untuk berkomunikasi.” |
Di tingkat global, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, mendesak otoritas Iran untuk menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. “Semua individu harus diizinkan untuk berunjuk rasa secara damai dan menyampaikan keluhan mereka,” pungkas Dujarric.
Hingga berita ini diturunkan, akses internet di sebagian besar wilayah Iran masih dilaporkan lumpuh, menyisakan kesunyian yang mencekam di balik hiruk-pikuk demonstrasi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














