NARASITODAY.COM, JAKARTA – Melangkahkan kaki mengisi posisi yang ditinggalkan Nova Arianto sosok yang sukses mengantarkan Timnas U-17 ke Piala Dunia tentu membawa beban tersendiri. Namun, bagi Kurniawan Dwi Yulianto, tantangan mempoles bakat mentah pemain muda Indonesia justru menjadi fokus utama. Ia bukan sekadar mencari kemenangan, melainkan membangun karakter yang tangguh.
Sepak bola usia muda dikenal sebagai ladang bakat dan kualitas. Namun, bakat tanpa polesan ibarat permata yang masih tertutup debu. Kurniawan menyadari betul bahwa bakat-bakat pemain Indonesia masih “mentah” dan butuh proses penyepuhan. Jalan yang harus dilaluinya pun terbilang terjal: mengulang sukses pendahulunya dengan waktu yang relatif singkat.
Pria yang akrab disapa Kurus ini menegaskan bahwa kunci utama dalam proses pembentukan tim ini bukan hanya soal teknis, melainkan soal kepribadian di lapangan.
“Di usia tumbuh kembang, tentunya kami mencoba untuk mendorong mereka pemain agar selalu mempunyai winning mentality. Itu yang paling penting,” kata Kurniawan di Jakarta, Jumat (6/3).
Pernyataan itu disampaikannya usai menghadapi undian Piala AFF U-17 2026. Dalam ajang yang akan berlangsung di Sidoarjo dan Gresik pada 11-23 April 2026 tersebut, Timnas Indonesia tergabung di Grup A bersama Malaysia, Timor Leste, dan Vietnam. Grup ini bak menjadi ujian awal bagi kualitas kepelatihan Kurniawan.
Mantan striker yang pernah membela Sampdoria tersebut harus bekerja ekstra keras dengan waktu yang terbatas. Ia hanya memiliki dua bulan untuk membentuk Garuda Muda. Untuk mempercepat proses, Kurniawan tidak membangun dari nol ia hanya menerima daftar pemain hasil scouting PSSI dari program sebelumnya, Garuda United.
Dengan filosofi kepelatihannya yang menekankan pada football intelligence, Kurniawan memilih untuk tidak mengotak-atik total fondasi yang sudah ada. Ia lebih memilih untuk mengisi kekosongan yang diperlukan.
“Saya hanya menambahkan apa yang menjadi filosofi saya, tapi tidak mengubah 100 persen karena memang di usia-usia seperti ini, dalam jangka waktu relatif singkat, dua bulan, tentunya tidak mudah,” ucap pelatih berusia 49 tahun itu.
“Jadi, kira-kira yang menurut saya kurang, saya akan tambahkan di situnya,” imbuhnya.
Piala AFF U-17 2026 kelak tidak hanya menjadi ajang persaingan, tetapi juga sarana seleksi ketat. Pemain yang dianggap cocok akan dipertahankan, sementara posisi lainnya akan kembali dicari dari penjuru Indonesia. Turnamen ini menjadi langkah krusial sebagai persiapan menuju Piala Asia U-17 2026, yang merupakan pintu gerbang menuju Piala Dunia U-17 2026.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














