CIA Bantu Mossad Berhasil Bunuh Khamenei, Analis Ungkap Kolaborasi Intelijen

0
Meksiko
Ilustrasi situs web CIA (Central Intelligence Agency).Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERAN – Riuh rendah klaim kemenangan Israel atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Februari 2026 lalu menyisakan teka-teki besar mengenai siapa sebenarnya arsitek di balik layar. Meski Mossad kerap mendapat sorotan utama, sejumlah pengamat militer mulai menyibak tabir keterlibatan mendalam Amerika Serikat sebagai faktor kunci yang menentukan keberhasilan operasi tersebut.

Operasi yang melumpuhkan jantung kepemimpinan Teheran ini dinilai bukan sekadar “pertunjukan tunggal” Israel. Analis dari International Institute for Strategic Studies (IISS) mengungkapkan bahwa keberhasilan penargetan tersebut mustahil terjadi tanpa “bank target” dan pengawasan elektronik waktu nyata (real-time) yang disuplai oleh Central Intelligence Agency (CIA).

Laporan menyebutkan bahwa intelijen Amerika telah membuntuti setiap gerak-gerik Khamenei selama berbulan-bulan. Data presisi inilah yang memicu keputusan krusial AS-Israel untuk mengubah waktu serangan dari kegelapan malam menjadi terang siang hari guna memastikan target tidak meleset.

Baca Juga :  Satpol PP Kabupaten Bogor Tertibkan PKL dan Sita 77 Botol Miras di Sekitar Stadion Pakansari

Kolaborasi Global dalam Senyap

Sentuhan teknologi militer Amerika, mulai dari drone pengintai hingga sistem persenjataan presisi, menjadi tulang punggung operasi ini. Pola serupa sebenarnya telah terendus sejak penghancuran pusat komando Hizbullah yang menewaskan Hassan Nasrallah pada 2024, di mana bom penghancur bunker buatan AS menjadi eksekutor utamanya.

Mamoun Abu Amer, analis politik Timur Tengah yang berbasis di Istanbul, menegaskan bahwa kerumitan operasi semacam ini melibatkan jaring intelijen lintas negara yang sangat luas.

“Ini bukan hanya upaya intelijen Israel semata, tetapi juga kolaborasi dengan badan internasional, termasuk CIA dan badan intelijen luar negeri Inggris, MI6,” ujar Abu Amer, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Namun, di balik kecanggihan teknologi tersebut, Abu Amer melihat adanya motif politik yang kental. “Netanyahu memanfaatkan ini untuk menampilkan kemenangan politik pribadi kepada publiknya, bahwa ia berhasil menyeret presiden AS ke dalam konfrontasi militer langsung dengan Iran,” tambahnya.

Baca Juga :  Belgia Peringati 10 Tahun Tragedi Bom Bunuh Diri di Brussel

Infiltrasi dan Pengkhianatan Internal

Selain dukungan asing, runtuhnya benteng keamanan Iran juga dipicu oleh keroposnya pilar internal. Tragedi tewasnya Ismail Haniyeh di wisma tamu Garda Revolusi pada 2024 menjadi bukti nyata adanya infiltrasi agen rahasia dan kolaborator lokal yang berhasil menyelundupkan bahan peledak berbulan-bulan sebelumnya.

Abu Amer menjelaskan bahwa Mossad sangat piawai dalam menggunakan “tangan orang lain” untuk menyusup ke zona merah tanpa memicu alarm kecurigaan.

Mossad jarang hanya mengandalkan agennya sendiri. Mereka sering menggunakan proksi asing untuk menyusup ke negara-negara ini,” ungkapnya. Infiltrasi ini bahkan menyentuh ranah digital, mulai dari peretasan kamera lalu lintas di Teheran hingga gangguan sinyal seluler tepat sebelum serangan terjadi.

Baca Juga :  Keenam Awak Pesawat Militer AS yang Jatuh di Irak Barat Dinyatakan Tewas

Fatamorgana Stabilitas

Meski secara taktis operasi “pemenggalan” ini dianggap sukses besar, para ahli memperingatkan bahwa kemenangan di atas kertas ini bisa menjadi jebakan jangka panjang. Serangan yang diklaim akan mengamankan Israel justru berisiko menyulut api perang yang lebih luas di kawasan.

Abu Amer mengingatkan bahwa sejarah kerap berulang dengan cara yang pahit. “Netanyahu mengeklaim serangan terhadap Iran akan mengamankan Israel untuk generasi mendatang. Namun beberapa bulan kemudian kawasan kembali dilanda perang,” ujarnya.

Ia menilai bahwa strategi pembunuhan tokoh penting hanyalah solusi jangka pendek yang tidak menyentuh akar permasalahan strategis.

“Mengandalkan pembunuhan intelijen tidak mengubah realitas strategis yang lebih luas; itu hanya memberi jeda sementara sambil menyeret Israel ke konflik yang tidak dapat diatasi sendiri,” pungkas Abu Amer.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com