Negara Asia Bersiap Hadapi Krisis Energi dengan Cadangan Minyak Strategis Meski Ketakutan Meningkat

0
energi
Ilustrasi industri minyak. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus berupaya mendinginkan suasana global di tengah memanasnya eskalasi konflik dengan Iran. Di saat jalur nadi energi dunia praktis lumpuh selama hampir dua pekan, Trump mencoba meyakinkan pasar bahwa badai ekonomi ini masih dalam kendali.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengklaim bahwa jalur pelayaran vital yang terganggu akan segera beroperasi kembali. Sebagai langkah darurat, ia juga berencana mencabut sementara sanksi minyak terhadap sejumlah negara guna menstabilkan pasokan.

Namun, optimisme Washington berbenturan keras dengan realitas di Teheran. Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, justru memberikan pesan perdana yang menantang setelah menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Lewat siaran Press TV pada Kamis (12/3/2026), Mojtaba menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka dalam waktu dekat.

“Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai bentuk tekanan terhadap musuh-musuh Teheran,” tegas pesan tersebut, sembari menyerukan persatuan nasional Iran.

Baca Juga :  Manchester United Gagal Beli Ansu Fati Seharga Rp 1 Triliun, Penawaran Besar yang Mengecewakan

Senada dengan itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan yang lebih ekstrem. Mereka bersumpah tidak akan membiarkan “satu liter pun minyak” keluar dari Timur Tengah selama gempuran AS dan Israel terhadap tanah Iran belum dihentikan.

Asia dalam Cengkeraman Krisis

Bagi negara-negara Asia, penutupan Selat Hormuz bukan sekadar berita politik, melainkan ancaman langsung terhadap dapur warga. Berdasarkan data Kpler tahun 2025, sekitar 59% impor minyak mentah Asia bergantung pada Timur Tengah. Kini, pasokan itu tersendat di gerbang selat yang membara.

Beberapa raksasa ekonomi seperti China dan Jepang relatif lebih tenang berkat cadangan minyak darat yang masif. Jepang bahkan telah melepas 80 juta barel cadangan strategisnya bagian dari koordinasi darurat global terbesar di bawah International Energy Agency. Namun, di belahan Asia lainnya, pemandangan mulai terlihat seperti masa awal pandemi.

Baca Juga :  Baru Sehari Menikah, Pria di Lumbang Pasuruan Tega Cabuli Adik Iparnya yang Masih Bocah

Penjatahan dan Kerja Jarak Jauh

Di Korea Selatan, Presiden Lee Jae Myung akhirnya mengambil langkah drastis dengan membatasi harga bahan bakar domestik untuk pertama kalinya dalam tiga dekade. Sementara di Thailand, pemerintah mulai mendorong kebijakan Work From Home (WFH) dan subsidi besar-besaran untuk meredam kepanikan publik.

“Kami telah menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi setiap potensi dampak,” ujar Menteri Perdagangan Thailand, Suphajee Suthumpun, meminta warga untuk tetap tenang.

Kondisi jauh lebih kritis terlihat di negara-negara berkembang:

  • Bangladesh: Militer dikerahkan untuk menjaga depot minyak guna mencegah panic buying. Semua universitas pun ditutup untuk menghemat energi.
  • Myanmar: Pemerintah militer memberlakukan sistem ganjil-genap yang ketat bagi kendaraan pribadi.
  • Vietnam: Antrean panjang di SPBU mulai menghiasi jalanan kota. Pemerintah merespons dengan rencana penghapusan tarif impor bahan bakar hingga April mendatang.
Baca Juga :  Kilang Minyak India Mulai Tinggalkan Pembelian Minyak Rusia, Diperkirakan Akan Berlanjut Lebih Lama

Di Pakistan, suasana lesu terasa di sepanjang perbatasan. Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengakui bahwa pemerintah harus mengambil keputusan sulit, termasuk memangkas hari kerja menjadi empat hari seminggu.

Kelangkaan ini dirasakan langsung oleh mereka yang berada di garis depan. Abdul Shakoor, seorang pengemudi truk pengangkut bahan bakar, hanya bisa menatap tangkinya yang kosong.

“Iran telah menutup perbatasan dari sisi mereka. Depotnya kosong,” keluh Abdul Shakoor kepada AFP.

Ketidakpastian ini kini menggantung di udara. Jika pintu Selat Hormuz tak kunjung terbuka, “kenormalan baru” berupa penjatahan energi dan pembatasan aktivitas fisik tampaknya akan menjadi kenyataan pahit bagi jutaan warga Asia di tahun 2026 ini.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com