Ekonomi Inggris Stagnan di Awal Tahun, Bayang-Bayang Konflik Timur Tengah

0
Ekonomi Inggris
Ilustrasi Bank of England di Kota London.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Ekonomi Inggris mengalami stagnasi pada Januari, dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tercatat nol persen. Data ini dirilis oleh Kantor Statistik Nasional pada Jumat (13/3/2026), setelah sebelumnya PDB sempat tumbuh tipis 0,1% pada Desember.

Menteri Keuangan Rachel Reeves mengakui tantangan besar masih menghadang. “Masih banyak yang harus dilakukan untuk menumbuhkan ekonomi Inggris di dunia yang tidak pasti,” ujarnya. Pada awal pekan, Reeves juga memperingatkan risiko inflasi akibat perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.

Dampak Konflik dan Harga Energi

Baca Juga :  Mendes PDT: Membangun dari Desa Jadi Kunci Pemerataan Ekonomi

Analis Samuel Edwards dari perusahaan jasa keuangan Ebury menilai, “Data pertumbuhan Januari hampir seluruhnya dibayangi oleh peristiwa di Timur Tengah, dengan harga minyak terus naik meskipun cadangan darurat telah dikeluarkan dan kekhawatiran meningkat atas gangguan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Ia menambahkan, “Dengan Inggris yang sangat terpapar guncangan inflasi ini, bisnis di seluruh negeri akan bersiap menghadapi lonjakan biaya energi dan bahan bakar serta suku bunga yang tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama.”

Bank of England, yang sebelumnya diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan, kini diprediksi menahan biaya pinjaman. Bahkan, ada kemungkinan suku bunga dinaikkan untuk meredam risiko inflasi.

Baca Juga :  Ekonomi Iran Runtuh, Protes Massa Meletus Menyusul Mundurnya Gubernur Bank Sentral

Prospek Pertumbuhan yang Suram

Paul Dales, kepala ekonom Inggris di Capital Economics, menegaskan, “Pertumbuhan PDB lebih mungkin kehilangan momentum dalam beberapa bulan mendatang daripada mendapatkannya.” Ia menambahkan bahwa guncangan harga energi menjadi faktor utama yang menekan laju ekonomi.

Stagnasi ekonomi Inggris di awal tahun mencerminkan betapa rapuhnya perekonomian global terhadap gejolak geopolitik. Bagi masyarakat Inggris, lonjakan harga energi bukan sekadar angka statistik, melainkan kenyataan sehari-hari yang memengaruhi biaya hidup.

Baca Juga :  Menteri Ekraf Dorong Lahirnya Generasi Pencipta Solusi Digital di Ajang Cyber Breaker Competition

Di sisi lain, dunia usaha kini berada dalam posisi sulit: harus menahan biaya operasional yang meningkat, sementara permintaan konsumen melemah. Ketidakpastian ini menimbulkan pertanyaan besar tentang arah kebijakan ekonomi Inggris ke depan, apakah mampu menjaga stabilitas atau justru terjebak dalam spiral inflasi dan pertumbuhan rendah.

Dengan bayang-bayang konflik Timur Tengah, Inggris menghadapi ujian berat untuk menyeimbangkan kebijakan fiskal dan moneter, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap masa depan ekonominya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com