Analis Prediksi Iran-Korut Perkuat Kerja Sama Militer Pasca Konflik

0
militer
Ilustrasi Sepasang bendera Iran dan Korea Utara.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, HONG KONGPuing-puing infrastruktur militer Iran yang mulai mendingin pasca-ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel, sebuah aliansi lama di Timur Jauh diprediksi akan kembali bersemi. Sejumlah analis melihat adanya sinyal kuat bahwa Teheran dan Pyongyang akan segera mengaktifkan kembali kerja sama militer mereka, khususnya dalam pengembangan rudal balistik dan teknologi nuklir yang presisi.

Rumor penguatan “Poros Perlawanan” ini mencuat seiring dengan upaya Iran membangun kembali kekuatan pertahanannya. Korea Utara (Korut), yang selama puluhan tahun menjadi “guru” teknologi rudal bagi Teheran, dinilai sebagai mitra paling logis di tengah himpitan sanksi internasional.

Reuni Teknologi di Tengah Puing Perang

Laporan dari South China Morning Post (SCMP) pada Senin (16/3/2026) menyoroti analisis para pakar mengenai babak baru hubungan kedua negara. Cho Han-bum, analis senior dari Korea Institute for National Security (KINU), menyebut bahwa kebutuhan Iran akan serangan balasan yang kredibel menjadi motor penggerak utama.

Baca Juga :  Polda Metro Jaya Tangkap 3 Tersangka Baru dalam Kasus Judi Online, Total 22 Orang Diamankan

“Korea Utara dan Iran kemungkinan akan kembali bekerja sama dalam pengembangan rudal serta pembangunan kembali fasilitas pengayaan uranium, karena Iran merasa sangat perlu memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan besar,” ungkap Cho Han-bum.

Ia meyakini bahwa berakhirnya fase panas konflik justru akan menjadi titik tolak bagi hubungan bilateral yang lebih erat. “Sangat mungkin kedua negara akan memperkuat hubungan mereka setelah perang berakhir,” tambahnya.

Diplomasi Nuklir dan Kecaman Pyongyang

Dukungan Pyongyang tidak hanya berupa cetak biru senjata, tetapi juga pengakuan politik. Korut secara resmi menyambut terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru melalui pernyataan kementerian luar negerinya via KCNA.

“Kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran dalam memilih pemimpin tertinggi mereka,” tegas pihak kementerian.

Pyongyang juga tak segan melontarkan kritik pedas terhadap aksi militer AS dan Israel yang dianggap merusak tatanan global. “Kami dengan tegas mengecam tindakan agresi Amerika Serikat dan Israel yang menghancurkan fondasi perdamaian serta keamanan kawasan,” lanjut pernyataan tersebut.

Baca Juga :  Kematian Kharrazi Tambah Gelombang Duka di Balik Bayang-Bayang Kepemimpinan Iran yang Berubah

Pamer Kekuatan di Semenanjung Korea

Sementara itu, Pemimpin Korut Kim Jong-un terus memanaskan mesin militernya. Baru-baru ini, ia mengawasi langsung peluncuran rudal jelajah strategis dari kapal perusak terbaru. Kim menyebut kekuatan nuklir Pyongyang kini telah bertransformasi ke dalam “fase operasi multi-peran”.

Di sisi lain, ketegangan di Semenanjung Korea diprediksi akan memuncak menjelang latihan gabungan Freedom Shield antara AS dan Korea Selatan pada 19 Maret mendatang. Adik perempuan Kim, Kim Yo-jong, telah memberikan peringatan keras.

“Pamer kekuatan militer dari pihak-pihak yang bermusuhan di dekat wilayah kedaulatan dan keamanan negara kami dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat mengerikan dan tak terbayangkan,” ancam Kim Yo-jong.

Baca Juga :  Presiden Meksiko Setujui Permintaan Tim Iran Tinggal di Negeri Selama Piala Dunia 2026

Jejak Sejarah yang Sulit Dihapus

Hubungan militer kedua negara bukanlah barang baru; akarnya sudah tertanam sejak 1973. Dari pasokan rudal Scud-B saat Perang Iran-Irak hingga pengembangan rudal Shahab yang berbasis teknologi Nodong milik Korut pada era 90-an, kerja sama ini selalu berjalan di bawah radar.

Peneliti senior KINU, Oh Gyeong-seob, menilai sanksi internasional justru menyatukan kedua negara dalam kesamaan nasib.

“Sangat mungkin Korea Utara yang dilarang menjual senjata akibat sanksi internasional telah bekerja sama secara diam-diam dengan Iran. Karena sanksi, Iran memiliki sangat sedikit sumber alternatif selain Korea Utara dan Rusia,” jelas Oh Gyeong-seob.

Dengan serangkaian uji coba rudal balistik dan peluncur roket ultra-presisi yang dilakukan Iran baru-baru ini, bayang-bayang teknologi Korea Utara tampaknya akan terus menghantui peta keamanan Timur Tengah dalam beberapa waktu ke depan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com