
LNARASITODAY.COM, BOGOR — Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kabupaten Bogor menggelar Kajian Ramadan bertema “Moderasi Beragama di Tengah Polarisasi” pada Ahad (15/3/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi para pelajar untuk memahami pentingnya sikap bijak dalam menyikapi perbedaan pandangan di tengah masyarakat.
Kajian tersebut diikuti oleh kader IPM dan pelajar dari berbagai wilayah di Kabupaten Bogor. Melalui kegiatan ini, para peserta diajak untuk merefleksikan sikap beragama yang moderat di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, terutama di era arus informasi yang berkembang pesat.
Ketua Umum PD IPM Kabupaten Bogor, Ipan Supanji, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran pelajar dalam menjaga keseimbangan sikap di tengah berbagai perbedaan yang berkembang di ruang publik.
Menurutnya, kemajuan teknologi informasi membuat berbagai pandangan mudah tersebar luas, yang tidak jarang memicu polarisasi di tengah masyarakat apabila tidak disikapi secara bijak.
“Kader IPM diharapkan mampu menghadirkan sikap wasathiyah, yaitu sikap pertengahan yang adil, seimbang, serta tidak mudah terjebak pada pandangan yang ekstrem,” ujar Ipan.
Pada sesi inti kajian, materi disampaikan oleh Asep Saepudin, S.Pd.I. Ia menjelaskan bahwa perbedaan pandangan merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, menurutnya, perdebatan yang berujung pada konflik sebaiknya dapat dihindari, terutama oleh kalangan pelajar.
Ia memaparkan bahwa konsep wasathiyah berada di antara dua kecenderungan sikap ekstrem, yakni sikap yang terlalu longgar hingga meremehkan nilai-nilai agama dan sikap berlebihan dalam beragama yang cenderung keras atau ghuluw.
Untuk menjaga keseimbangan tersebut, Asep menyebut terdapat sejumlah nilai yang menjadi pilar dalam sikap wasathiyah, di antaranya tawassuth (sikap tengah), musyawarah atau dialog, tasamuh (toleransi), i’tidal (keadilan), serta tawazun (keseimbangan).
“Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bagi para pelajar dalam membangun sikap yang bijak serta menghargai perbedaan,” jelasnya.
Kegiatan kajian berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif para peserta yang menyampaikan pertanyaan dan pandangan terkait isu moderasi beragama di tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang menjadi momen mempererat kebersamaan dan ukhuwah di antara para peserta setelah mengikuti kajian sepanjang sore hari.
Editor : Andreas












