Jejak di Pulau yang Tak Pernah Ada

0
Ilustrasi AI

Cerpen

Langit sore itu berwarna jingga saat Arka menemukan sebuah peta tua di loteng rumah kakeknya.

Kertasnya rapuh, berbau waktu, dengan garis-garis samar yang menunjukkan sebuah pulau-pulau yang tidak pernah ia lihat di peta mana pun.

Di sudut peta tertulis satu kalimat singkat: “Harta terbesar tersembunyi di tempat yang dilupakan.”

Rasa penasaran mengalahkan segalanya.
Beberapa hari kemudian, Arka sudah berada di tengah laut, menumpang perahu nelayan menuju koordinat yang ditunjukkan peta.

Ombak mulai tenang saat sebuah pulau muncul dari balik kabut. Sunyi. Tidak ada tanda kehidupan.

Namun begitu kakinya menginjak daratan, sesuatu terasa berbeda.

Hutan lebat menyambutnya dengan bisikan angin yang aneh. Pohon-pohon tinggi menjulang seperti mengawasi.

Arka menelan ludah, lalu melangkah masuk. Ia tidak tahu bahwa pulau itu menyimpan lebih dari sekadar harta.

Baca Juga :  Gelombang Laut di Selat Sunda Diprediksi Aman untuk Mudik Lebaran 2025, Namun Waspadai Perubahan Cuaca

Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah desa tua yang tampak kosong. Rumah-rumah kayu lapuk, pintu terbuka, seolah penghuninya pergi tergesa-gesa.
“Jangan lanjutkan…”

Suara itu membuat Arka menoleh. Seorang perempuan tua berdiri di balik bayangan pohon.

“Siapa Anda?” tanya Arka.

“Penjaga yang tersisa,” jawabnya lirih.

“Pulau ini dikutuk. Hutan di dalamnya adalah sumbernya. Banyak yang datang mencari harta, tapi tak pernah kembali.”

Arka menggenggam peta erat. “Saya harus tahu kebenarannya.”

Perempuan itu hanya menghela napas. “Kalau begitu, bersiaplah kehilangan lebih dari yang kau bayangkan.”

Arka melanjutkan perjalanan. Semakin dalam ia masuk ke hutan, suasana berubah. Kabut menebal, waktu terasa melambat.

Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah bangunan aneh seperti laboratorium tua yang tertelan akar pohon.
Di dalamnya, sebuah mesin besar berdiri diam.

Berkarat, namun masih utuh.
Tiba-tiba, layar kecil di mesin itu menyala.
“Sistem waktu aktif.”

Baca Juga :  Kapal Angkatan Laut Meksiko Kehilangan Tenaga, Menabrak Jembatan Brooklyn

Arka terperanjat. Sebelum sempat berpikir, cahaya terang menyelimuti ruangan.
Dan dalam sekejap

Ia berada di tempat yang sama, tapi berbeda.

Hutan itu masih muda. Desa yang tadi kosong kini ramai. Orang-orang berjalan, anak-anak bermain. Arka menyadari satu hal:

Ia berada di masa lalu.
Seorang pria dengan jas putih

mendekatinya. “Kau bukan dari sini, ya?”

“Apa ini?” tanya Arka kebingungan.

“Aku yang menciptakan mesin itu,” jawab pria itu.

“Tapi aku membuat kesalahan. Eksperimenku membuka sesuatu… sesuatu yang mengutuk pulau ini.”
Arka menahan napas.

“Jadi… kutukan itu berasal dari mesin waktu?”

Pria itu mengangguk. “Jika mesin itu tidak dihentikan, masa depan akan hancur. Termasuk tempat asalmu.”

Arka menatap hutan yang kini terasa lebih gelap. Ia sadar, ini bukan lagi tentang harta karun.

Baca Juga :  Konflik di Selat Hormuz Ancam Ekosistem Laut, Ribuan Kapal dan Risiko Tumpahan Minyak Jadi Sorotan

Ini tentang menyelamatkan waktu.
Dengan tekad yang bulat, Arka kembali ke laboratorium.

Ia mengutak-atik mesin, mengikuti petunjuk dari ilmuwan itu. Cahaya kembali menyala, lebih kuat dari sebelumnya.

“Jika kau melakukan ini,” kata ilmuwan itu,

“kau mungkin tidak akan kembali seperti semula.”

Arka tersenyum tipis. “Setidaknya, dunia akan tetap ada.”

Ia menarik tuas terakhir.
Cahaya menyelimuti segalanya.
Dan kemudian Sunyi.

Arka membuka mata. Ia kembali di pulau itu. Hutan tampak normal. Desa yang tadinya kosong kini hilang seakan tidak pernah ada.

Di tangannya, peta itu berubah.
Tulisan di sudutnya kini berbunyi:

Harta terbesar adalah waktu yang berhasil kau selamatkan.”

Arka tersenyum.

Ia datang untuk mencari harta.
Namun yang ia temukan… jauh lebih berharga.