Pemerintah Jamin Ekspor Pupuk Tetap Mengalir di Tengah Badai Geopolitik Timur Tengah

0
Pemerintah
Ilustrasi pupuk yang sedang di tangan petani.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Pemerintah memastikan stabilitas pasokan pupuk nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Hingga saat ini, belum ada rencana untuk membatasi ekspor pupuk, meskipun sejumlah negara mulai mengantisipasi potensi gangguan rantai pasok global.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menegaskan bahwa pemerintah masih mengedepankan langkah antisipatif berupa diversifikasi sumber bahan baku, alih-alih mengambil kebijakan pembatasan ekspor.

“Ya pupuk kita mau ngambil, sebenarnya kita impor dari Eropa Timur kan banyak. Ya kaya dari Kazakhstan, Uzbekistan, negara-negara Eurasia. Itu banyak, ya bisa dialihkan dari situ,” kata Budi kepada wartawan di Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Langkah pengalihan sumber impor tersebut, menurut Budi, masih bersifat pencegahan. Sejauh ini, belum ada sinyal gangguan serius dari pelaku industri pupuk dalam negeri, termasuk dari BUMN.

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah juga belum menerima keluhan dari PT Pupuk Indonesia (Persero) terkait kesulitan memperoleh bahan baku. Hal ini menjadi indikator bahwa rantai pasok pupuk nasional masih dalam kondisi aman.

Baca Juga :  Thailand Optimalkan Anggaran Fiskal 2026 untuk Program Dukungan Konsumen Tahap Dua

“Sampai sekarang sih belum ada ya dari pihak BUMN belum ngobrol ke kita. Artinya dari pihak BUMN belum ada keluhan ya ke kami. Saya kira mungkin teman-teman di BUMN belum ada masalah. Mudah-mudahan sih nggak ada masalah,” ujarnya.

Di sisi lain, kepastian pasokan juga ditegaskan langsung oleh pihak perusahaan. Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menyatakan bahwa produksi dan cadangan bahan baku masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan petani di seluruh Indonesia.

Pupuk Indonesia berkomitmen menjalankan mandat pemerintah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani. Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk,” ujarnya.

Baca Juga :  Krisjiana Baharudin Kecewa Atau Bersyukur? Reaksi Tak Terduga Saat Tahu Anak Kedua Perempuan

Secara kapasitas, produksi pupuk nasional mencapai sekitar 14,5 juta ton per tahun untuk berbagai jenis, dengan pupuk urea bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik. Di balik angka tersebut, terdapat rantai pasok global yang tetap dijaga agar tidak mudah terguncang oleh konflik.

Bahan baku fosfat, misalnya, masih dipasok dari kawasan Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara kalium berasal dari Kanada dan Laos wilayah yang relatif aman dari konflik. Adapun bahan baku sulfur yang sebagian berasal dari Timur Tengah memang berpotensi terdampak, namun pemerintah menilai alternatif pasokan dari negara lain tetap tersedia.

Dalam lanskap global yang penuh ketidakpastian, sikap pemerintah yang tidak tergesa-gesa membatasi ekspor menunjukkan upaya menjaga keseimbangan. Di satu sisi, kebutuhan dalam negeri tetap diprioritaskan, sementara di sisi lain, peran Indonesia sebagai salah satu eksportir pupuk di kawasan tetap dipertahankan.

Baca Juga :  Genangan Air di Jakarta Mulai Surut, Namun Waspada Banjir Masih Membayangi

Data menunjukkan kinerja ekspor pupuk Indonesia terus meningkat. Badan Pusat Statistik mencatat volume ekspor pupuk nasional pada 2025 mencapai 2,148 juta ton, naik signifikan dari 1,704 juta ton pada 2024. Sementara pada Januari 2026, ekspor tercatat sebesar 21 ribu ton.

Dengan pengalaman lebih dari setengah abad, Pupuk Indonesia juga dikenal sebagai salah satu produsen amonia dan urea terbesar di Asia, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga aktif menembus pasar global.

Di tengah bayang-bayang krisis global, ketahanan sektor pupuk Indonesia menjadi penopang penting bagi keberlanjutan pertanian nasional memastikan para petani tetap bisa menanam, bahkan ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com