NARASITODAY.COM,RIYADH – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang krusial. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), dikabarkan mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk tidak mengendurkan serangan terhadap Iran. Langkah militer AS-Israel ini dipandang Riyadh sebagai momentum langka untuk merombak peta geopolitik kawasan secara permanen.
Laporan The New York Times yang mengutip sumber internal menyebutkan bahwa MBS mendorong Washington agar menghancurkan pemerintahan garis keras di Teheran. Bagi sang Putra Mahkota, Iran bukan sekadar lawan politik, melainkan ancaman eksistensial jangka panjang bagi negara-negara Teluk yang hanya bisa diselesaikan dengan pergantian rezim.
Dukungan di Balik Layar
Di tengah gemuruh mesin perang yang telah berlangsung selama sebulan terakhir, The Guardian melansir informasi intelijen bahwa Riyadh tidak hanya meminta serangan dilanjutkan, tetapi juga ditingkatkan intensitasnya.
Presiden Donald Trump sendiri memberikan sinyal konfirmasi mengenai sikap keras pemimpin de facto Saudi tersebut.
“Ya, dia seorang pejuang. Dia berjuang bersama kita,” ujar Trump sebagaimana dikutip oleh The Guardian.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi yang mengonfirmasi keterlibatan militer aktif Arab Saudi dalam palagan AS-Israel melawan Iran. Kerajaan tampak masih bermain di wilayah diplomasi tingkat tinggi sambil mengamati pergerakan di lapangan.
Netralitas yang Terancam
Sentuhan kewaspadaan menyelimuti kebijakan luar negeri Riyadh. Pakar pertahanan, Hesham Alghannam, menilai posisi Saudi saat ini berada di titik nadir yang sangat sensitif.
“Saya yakin Arab Saudi masih mempertahankan netralitas yang hati-hati dalam perang Iran-Israel-AS. Jika Houthi menyerang aset Saudi, Riyadh mungkin akan beralih ke dukungan koalisi defensif atau pembalasan terbatas,” ungkap Alghannam kepada AFP.
Ancaman itu nyata. Seminggu lalu, sebuah pesawat tak berawak (drone) menghantam kilang minyak di Yanbu, pantai Laut Merah. Serangan ini merupakan bagian dari respons Teheran atas gempuran AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Yanbu adalah jalur vital bagi ekspor minyak Saudi yang selama ini dianggap lebih aman dibanding Selat Hormuz yang diblokade Iran.
Rivalitas ini bukanlah barang baru. Persaingan antara pemimpin dunia Islam Sunni dan Syiah ini telah mengakar selama puluhan tahun. Narasi keras dari keluarga kerajaan Saudi terhadap Iran bahkan telah terekam sejak lama.
Dokumen Departemen Luar Negeri AS yang bocor mengungkap bahwa pada 2008, Raja Abdullah paman dari MBS pernah mendesak militer AS untuk segera “memenggal kepala ular,” sebuah kiasan yang merujuk pada rezim teokratis di Teheran.
Kini, di bawah kepemimpinan MBS dan kembali berkuasanya Trump di Gedung Putih, desakan lama itu kembali bergema di tengah dentuman rudal yang menerangi langit Timur Tengah.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














