Keterlibatan Houthi Yaman dalam Konflik Iran Mengancam Keamanan Perdagangan Maritim Dunia

0
Houthi
Ilustrasi Kapal-kapal kargo melintasi Selat Bab al-Mandeb yang strategis di kawasan Laut Merah, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah akibat keterlibatan kelompok Houthi Yaman dalam konflik regional yang mengancam stabilitas jalur perdagangan maritim global.Foto : ALP Maritime Services

NARASITODAY.COM, SANA’A – Peta geopolitik Timur Tengah kembali membara. Selat Bab al-Mandeb, sebuah jalur sempit yang menjadi “pintu gerbang” Laut Merah, kini berada dalam pengawasan ketat dunia. Kelompok Houthi di Yaman secara resmi melibatkan diri dalam konflik Iran, memicu alarm bahaya bagi stabilitas perdagangan maritim global yang selama ini bergantung pada jalur tersebut.

Ketegangan mencapai puncaknya pada Senin (30/3/2026), ketika ancaman penutupan total akses Laut Merah mencuat. Langkah ini mengikuti jejak Iran yang sebelumnya telah melumpuhkan Selat Hormuz.

Jika kedua titik nadi ini tersumbat secara bersamaan, dunia akan menghadapi mimpi buruk logistik yang belum pernah terjadi sebelumnya membuktikan adagium Napoleon Bonaparte bahwa nasib suatu bangsa memang sangat ditentukan oleh geografinya.

Pemimpin yang Tak Terdeteksi

Houthi, kelompok yang menguasai ibu kota Sana’a sejak 2014, terbukti memiliki ketahanan militer yang ulet meski terus dihantam badai serangan. Pada Agustus 2025, operasi intelijen Israel memang berhasil melumpuhkan struktur kabinet mereka, termasuk perdana menteri dan kepala staf. Namun, sang pemimpin tertinggi, Abdul Malik Al-Houthi, tetap menjadi sosok misterius yang tak tersentuh hingga hari ini.

Baca Juga :  Kebijakan Harga BBM India di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Inflasi dan Biaya Transportasi Meningkat

Meskipun laporan PBB menengarai pasokan senjata berasal dari Teheran, keterlibatan langsung Houthi dalam palagan atas nama Iran baru terlihat jelas sekarang. Padahal, sejak Mei 2025, sempat ada secercah harapan melalui gencatan senjata dengan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Oman.

Dilema Ekonomi Global

Ketidakpastian ini membuat raksasa pelayaran seperti Maersk berfikir dua kali. Banyak perusahaan memilih rute memutar melalui Tanjung Harapan, Afrika. Meski jauh lebih lama dan mahal, rute itu dianggap lebih aman daripada bertaruh nyawa di bawah ancaman rudal dan drone Houthi di Bab al-Mandeb.

Baca Juga :  Masyarakat dan Aparat Bersatu Doakan Korban Ledakan Amunisi, Menanti Hasil Investigasi

Spesialis Timur Tengah dari think tank Chatham House London, Farea Al-Muslimi, memberikan peringatan keras mengenai kerapuhan ekonomi global saat ini.

“Gangguan berkelanjutan apa pun akan menaikkan biaya pengiriman, meningkatkan harga minyak, dan memberikan tekanan tambahan pada ekonomi global yang sudah rapuh akibat situasi di Selat Hormuz,” ujar Al-Muslimi sebagaimana dikutip dari The Guardian, Senin (30/3/2026).

Al-Muslimi juga menilai adanya pergeseran persepsi di internal Yaman. Semakin Houthi aktif dalam agenda Iran, semakin kuat anggapan di dalam negeri bahwa kelompok ini sekadar menjadi bidak kepentingan Teheran.

Taruhan di Meja Perundingan

Di sisi lain, Houthi diyakini masih bermain cantik. Mereka tengah melirik insentif finansial dari Arab Saudi, yang kini memegang kendali tunggal atas masa depan Yaman. Riyadh berada di posisi sulit: mereka harus terus mengucurkan dana untuk menjaga stabilitas demi meminimalkan gangguan di Laut Merah. Houthi di utara tampaknya menginginkan “bagian kue” tersebut sebagai imbalan untuk gencatan senjata.

Baca Juga :  Bentengi Ketahanan Nasional, Xi Jinping Instruksikan Percepatan Transformasi Energi China

Namun, di atas kepentingan ekonomi, ada nyawa warga sipil yang menjadi taruhan. Perang saudara yang telah merobek Yaman selama satu dekade terancam semakin berlarut-larut akibat eskalasi regional ini.

Utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menyampaikan kekhawatiran mendalamnya terhadap situasi yang kian meruncing.

“Eskalasi ini mengancam untuk menyeret Yaman ke dalam perang regional, yang akan membuat penyelesaian konflik di Yaman menjadi lebih sulit, memperdalam dampak ekonominya, dan memperpanjang penderitaan warga sipil,” pungkas Grundberg.

Kini, dunia hanya bisa menunggu apakah diplomasi mampu meredam gejolak di selat-selat vital tersebut, ataukah ego politik akan benar-benar memutuskan urat nadi ekonomi internasional.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com