Inggris Kumpulkan 35 Negara, Upayakan Jalur Diplomasi demi Buka Blokade Selat Hormuz

0
Selat Hormuz
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer.Foto :: pbs.org

NARASITODAY.COM, LONDON – Selat Hormuz, urat nadi energi dunia yang kini membeku akibat blokade, menjadi agenda darurat di meja diplomasi global. Pemerintah Inggris mengumumkan akan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi yang menghadirkan menteri luar negeri dari 35 negara pada pekan ini.

Misi utamanya satu yaitu mencari jalan keluar untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut di tengah berkecamuknya perang antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat-Israel.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengonfirmasi bahwa pertemuan yang diinisiasi bersama Prancis ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis (2/4/2026). Langkah ini diambil setelah krisis maritim di Teluk mencapai titik nadir, dengan sekitar 1.000 kapal komersial terjebak akibat blokade yang dimulai sejak akhir Februari lalu.

Baca Juga :  Mendes Sebut Perangkat Desa Sebagai Ujung Tombak Suksesnya Program Pembangunan Di Desa

Menyatukan Suara Global

Inggris tidak bergerak sendiri. Dalam beberapa hari terakhir, lobi-lobi intensif telah dilakukan di kawasan Timur Tengah untuk membangun kesepahaman antarnegara yang terdampak langsung oleh terganggunya rantai pasok global.

“Menteri Pertahanan Inggris (John Healey) telah berada di Timur Tengah untuk berbicara dengan mitra kami. Inggris kini telah menyatukan suara dari 35 negara lewat pernyataan niat untuk bersama-sama mendorong keamanan maritim di seluruh Teluk,” kata Starmer kepada wartawan di London, Rabu (1/4/2026).

Starmer menambahkan bahwa pertemuan ini akan menjadi panggung bagi Menteri Luar Negeri Yvette Cooper untuk memimpin penilaian taktis terhadap situasi di lapangan.

“Dan hari ini, saya dapat mengumumkan bahwa akhir pekan ini, Menteri Luar Negeri Inggris (Yvette Cooper) akan menerima perwakilan negara-negara itu untuk pertama kali, di mana kami akan menilai seluruh langkah diplomatik dan politik yang layak untuk kami ambil dalam memulihkan kebebasan navigasi, menjamin keselamatan seluruh kapal dan pelaut yang terjebak, serta melanjutkan pergerakan komoditas-komoditas vital.”

Baca Juga :  Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio Tegaskan Sanksi Iran Tidak Dihapus Tanpa Syarat

Nasib Kapal yang Terdampar

Di balik meja perundingan, ada urgensi kemanusiaan dan ekonomi. Para diplomat senior dijadwalkan membahas nasib para pelaut yang terombang-ambing di tengah ketidakpastian. Fokus utama mereka adalah memulihkan kebebasan navigasi guna memastikan barang-barang kebutuhan pokok kembali mengalir melalui jalur komersial tersebut.

Melansir The Guardian, koalisi 35 negara ini melibatkan kekuatan besar seperti Prancis, Jerman, Jepang, Kanada, hingga Korea Selatan dan Uni Emirat Arab. Mereka secara kolektif memperingatkan bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional bukan sekadar isu regional, melainkan ancaman nyata bagi perdamaian dunia.

Baca Juga :  Persoalan Agraria di Jasinga Kembali Mencuat, DPRD Bogor Janji Tindak Lanjuti

Dari Diplomasi ke Strategi Militer

Langkah Inggris tidak berhenti pada retorika politik. Setelah pertemuan para menteri luar negeri tuntas, agenda akan berlanjut ke tingkat teknis yang lebih serius. Pemerintah Inggris berencana mempertemukan para perencana militer untuk merumuskan strategi pengamanan Selat Hormuz di masa depan, terutama setelah konflik bersenjata berakhir.

Blokade Selat Hormuz oleh Iran sendiri merupakan respons atas serangan masif yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Kini, dunia menanti apakah kekuatan diplomasi 35 negara di London mampu mencairkan ketegangan di Teluk, atau justru krisis energi akan semakin menjerat ekonomi global.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com