NARASITODAY.COM, BEIJING – Saat genderang perang di Timur Tengah memicu kepanikan energi di berbagai belahan Asia, China justru menunjukkan ketenangan yang kontras. Di kala negara-negara tetangga mulai mengimbau warganya untuk mandi lebih singkat hingga bekerja dari rumah demi menghemat bahan bakar, Beijing dengan percaya diri memamerkan “mangkuk nasi energi” miliknya yang diklaim antipeluru.
Daya tahan China kini menjadi sorotan global. Sebagai konsumen minyak raksasa yang impornya hampir menyamai gabungan India, Jepang, dan Korea Selatan, China secara teori seharusnya menjadi pihak yang paling rentan. Namun, kenyataannya menunjukkan hal berbeda. Kebijakan strategis selama puluhan tahun telah membangun benteng yang melindungi Negeri Tirai Bambu dari guncangan harga global.
Revolusi Listrik yang Mengubah Peta
Kunci utama ketahanan ini terletak pada armada kendaraan listrik (EV) China yang kini hampir setara dengan jumlah gabungan di seluruh dunia. Target ambisius tahun 2020 yang mematok penjualan EV sebesar 20% pada 2025 telah terlampaui jauh lebih cepat tahun lalu, separuh dari mobil baru yang terjual di China adalah kendaraan listrik.
Lauri Myllyvirta, co-founder Centre for Research on Energy and Clean Air, menilai situasi krisis saat ini justru menjadi panggung pembuktian bagi visi jangka panjang Beijing.
“Situasi saat ini benar-benar mendekati apa yang telah direncanakan para perencana China selama beberapa dekade,” ujarnya, dikutip Sabtu (4/4/2026). “Ini memvalidasi dorongan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang diangkut melalui laut.”
Ledakan EV ini memberikan dampak nyata: volume minyak yang berhasil digantikan oleh listrik tahun lalu diperkirakan setara dengan seluruh volume impor China dari Arab Saudi.
Diversifikasi dan CadanganÂ
Berbeda dengan Jepang yang menggantungkan 80% kebutuhan minyaknya pada Arab Saudi dan UEA, China bermain lebih lincah. Beijing mendistribusikan ketergantungannya kepada delapan pemasok berbeda, termasuk memanfaatkan minyak diskon dari Rusia, Venezuela, dan Iran negara-negara yang dihindari pembeli lain akibat sanksi AS.
Tak hanya itu, China secara rahasia terus menimbun minyak ke dalam cadangan strategisnya. Meski angka pastinya terkunci rapat, para analis memperkirakan stok nasional dan komersial China mampu menopang kebutuhan dalam negeri selama tujuh bulan jika jalur krusial seperti Selat Hormuz tertutup total.
Akhir dari Era Haus Minyak?
Meskipun produksi minyak domestik China mencapai rekor 4,3 juta barel per hari, para ahli melihat bahwa masa keemasan konsumsi minyak akan segera berakhir. Upaya masif dalam pengembangan energi terbarukan dan batu bara domestik telah membuat jaringan listrik China mandiri, sekaligus mengurangi kebutuhan akan impor gas alam cair (LNG).
Chen Lin, Wakil Presiden lembaga riset migas Rystad Energy, memproyeksikan bahwa ketergantungan China pada minyak luar negeri akan segera menemui titik jenuh.
“Permintaan minyak China kemungkinan mencapai puncaknya tahun ini dan kemudian menurun,” kata Chen Lin. “Jadi meskipun porsi impor tetap tinggi, situasinya tidak mungkin memburuk.”
Melalui jaringan pipa yang menghubungkan Rusia, Asia Tengah, hingga Myanmar, China perlahan namun pasti mulai melepaskan diri dari ketergantungan jalur laut yang berisiko. Saat dunia masih cemas menatap Timur Tengah, Beijing tampak sudah lebih dulu menyelesaikan “pekerjaan rumah” energinya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com












