Kematian Kharrazi Tambah Gelombang Duka di Balik Bayang-Bayang Kepemimpinan Iran yang Berubah

0
Operasi Offensif
Ilustrasi bendera iran.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERAN – Lorong-lorong kekuasaan di Teheran kembali diselimuti duka mendalam. Mantan Menteri Luar Negeri Iran sekaligus tokoh kunci diplomasi Negeri Para Mullah, Kamal Kharrazi, dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (10/4/2026) dini hari waktu setempat.

Kharrazi mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan luka kritis akibat serangan udara yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel pada 1 April lalu. Tragedi ini tidak hanya merenggut nyawa sang diplomat senior, tetapi juga menewaskan istrinya dalam serangan yang menghancurkan kediaman pribadi mereka.

Kehilangan Sosok Arsitek Diplomasi

Kantor berita resmi Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), melaporkan bahwa Kharrazi sempat menjalani perawatan intensif selama beberapa hari. Namun, luka berat yang dideritanya dalam dugaan upaya pembunuhan tersebut terlalu parah untuk disembuhkan.

Baca Juga :  Pesawat Perdana Menteri Spanyol Terpaksa Pendaratan Darurat di Ankara karena Masalah Teknis

Pihak keluarga mengonfirmasi kabar duka ini dengan menyebutkan bahwa Kharrazi wafat setelah bertahun-tahun mengabdi di bidang politik dan akademik. Sosoknya dikenal luas sebagai kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran dan pernah menduduki posisi krusial sebagai penasihat senior Pemimpin Tertinggi serta anggota Dewan Penentu Kebijakan.

Wafatnya Kharrazi menambah daftar panjang pejabat dan petinggi militer Iran yang gugur dalam gelombang serangan AS-Israel sejak akhir Februari lalu sebuah periode paling mematikan bagi struktur kepemimpinan Teheran dalam dekade terakhir.

Kepemimpinan di Balik Bayang-Bayang

Situasi politik di Iran kian penuh teka-teki pasca-tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan sebelumnya. Jabatan tertinggi kini telah beralih ke tangan sang putra, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Namun, sejak didapuk menjadi pemimpin, Mojtaba belum pernah sekalipun menampakkan diri di hadapan publik secara langsung.

Baca Juga :  UEA dan Bahrain Desak PBB Beri Respons Tegas atas Serangan Iran

Ketidakhadiran fisiknya memicu spekulasi intelijen internasional bahwa Mojtaba juga tengah dalam kondisi kritis akibat luka-luka dari serangan yang sama. Selama ini, suaranya hanya tersambung melalui pernyataan tertulis yang dibacakan oleh pembawa berita di stasiun televisi negara.

Pesan Gencatan Senjata dan Perlawanan

Di tengah suasana berkabung atas wafatnya Kharrazi, Mojtaba Khamenei akhirnya buka suara terkait kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan AS yang dicapai pada Selasa (7/4/2026). Meski sepakat menghentikan kontak senjata langsung, nada bicaranya tetap menunjukkan ketegasan terhadap kedaulatan Iran.

Baca Juga :  Israel Bangun Fasilitas Eksekusi Mati untuk Tahanan Palestina

Melalui pesan tertulis yang dibacakan di televisi nasional pada Kamis (9/4/2026), Mojtaba menegaskan posisi Republik Islam Iran dalam pusaran konflik global ini.

“Kami tidak mencari perang dan kami tidak menginginkannya,” ujar Mojtaba dalam pernyataan tersebut. “Namun kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami dalam kondisi apa pun, dan dalam hal ini kami memandang seluruh front perlawanan sebagai satu kesatuan.”

Pernyataan tersebut diyakini merujuk pada ketegangan yang masih membara di Lebanon, di mana sekutu terdekat Teheran, Hizbullah, masih terus menghadapi gempuran militer Israel. Bagi rakyat Iran, wafatnya Kamal Kharrazi adalah simbol hilangnya salah satu jembatan diplomasi terbaik mereka di tengah badai perang yang belum sepenuhnya mereda.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com