NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Panggung politik Amerika Serikat mengalami guncangan hebat dalam satu malam. Dua anggota Kongres dari kubu yang berseberangan, Eric Swalwell (Demokrat) dan Tony Gonzales (Republik), resmi mengumumkan pengunduran diri mereka hanya dalam hitungan menit pada Senin waktu setempat.
Langkah dramatis ini diambil setelah keduanya terjerat skandal perilaku seksual yang mencoreng citra mereka di Capitol Hill. Kepergian mereka tidak hanya meninggalkan kursi kosong, tetapi juga menciptakan kekacauan elektoral di California dan Texas.
Kejatuhan Bintang Demokrat dari California
Eric Swalwell, politisi yang telah menjabat sejak 2012, memutuskan mundur tak lama setelah ia menarik diri dari bursa pemilihan Gubernur California. Tekanan publik memuncak setelah empat wanita pekan lalu melayangkan tuduhan serius, mulai dari pelecehan seksual hingga pemerkosaan.
Melalui unggahan di platform X, Swalwell menyampaikan permintaan maaf yang mendalam namun tetap membela diri atas beberapa poin tuduhan.
“Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga, staf, dan konstituen saya atas kesalahan penilaian yang saya buat di masa lalu,” tulisnya.
Meski berjanji akan melawan tuduhan yang ia sebut sebagai “palsu”, ia mengakui harus bertanggung jawab atas kesalahan yang memang dilakukannya agar tidak menjadi beban bagi partai.
Keputusan Swalwell ini meninggalkan “bom waktu” bagi Partai Demokrat di California. Karena tenggat waktu penghapusan nama di surat suara telah lewat, nama Swalwell akan tetap muncul dalam pemilihan “open primary” Juni mendatang.
Hal ini dikhawatirkan akan memecah suara Demokrat dan membuka jalan bagi dua kandidat Republik untuk melaju ke pemilihan umum November, sebuah skenario yang bisa mengunci Demokrat dari kursi gubernur.
Skandal Pesan Singkat dan Tragedi di Kubu Republik
Hanya berselang beberapa menit setelah pengumuman Swalwell, giliran Tony Gonzales dari Partai Republik yang menyatakan mundur. Gonzales tengah berada di bawah mikroskop Komite Etik House of Representatives terkait hubungan terlarang dengan mantan ajudan seniornya yang dilaporkan meninggal dunia karena bunuh diri.
Situasi Gonzales kian tersudut setelah San Antonio Express-News membocorkan rangkaian pesan teks mesum dari tahun 2020. Pesan tersebut berisi permintaan foto tanpa busana dan pertanyaan vulgar kepada direktur politik kampanyenya.
Dengan nada yang lebih religius, Gonzales berpamitan melalui akun media sosialnya:
“Ada musim untuk segalanya dan Tuhan punya rencana untuk kita semua. Ketika Kongres kembali besok, saya akan mengajukan pengunduran diri saya dari jabatan.”
Kepergian Gonzales memberikan dilema bagi pimpinan Republik yang selama ini berusaha mempertahankan margin suara mayoritas yang sangat tipis demi mendukung agenda-agenda Donald Trump.
“Pembersihan” Lintas Partai
Di balik layar, mundurnya kedua politisi ini kabarnya merupakan hasil dari kesepakatan tak tertulis untuk melakukan “bersih-bersih” secara adil. Anggota Kongres Anna Paulina Luna (Republik) dan Teresa Leger Fernández (Demokrat) dilaporkan telah merancang langkah agar masing-masing partai kehilangan satu anggota guna menjaga keseimbangan kekuasaan di parlemen.
Momen ini membawa ingatan publik kembali pada era gerakan #MeToo di akhir 2010-an. Meski keduanya telah menyatakan mundur, Komite Etik Kongres dipastikan akan tetap memproses penyelidikan mereka saat masa reses berakhir pada hari Selasa mendatang.
Bagi warga di distrik Swalwell, yang membentang dari timur San Francisco hingga utara San Jose, serta konstituen Gonzales di Texas, masa transisi ini akan menjadi ujian bagi keberlangsungan layanan publik di tingkat federal.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














