Raja Charles III Rencanakan Kunjungan Diplomatik ke Amerika Serikat untuk Perbaiki Hubungan Bilateral

0
hubungan
Raja Charles III dari Inggris bereaksi saat menyambut Presiden Donald Trump, didampingi oleh Pangeran William dari Inggris, Pangeran Wales, dan Catherine dari Inggris, Putri Wales, setibanya mereka di halaman Kastil Windsor.Foto : foxnews.com

NARASITODAY.COM, LONDON – Dinginnya hubungan diplomatik antara London dan Washington akibat perbedaan sikap soal konflik Iran, mahkota Inggris mencoba turun tangan. Raja Charles III dijadwalkan bertolak ke Amerika Serikat pada 27 April 2026 mendatang dalam sebuah kunjungan kenegaraan yang sarat akan misi perdamaian dan simbolisme sejarah.

Kunjungan selama empat hari ini tidak hanya sekadar protokoler. Mengutip Reuters, Selasa (14/4/2026), sang Raja akan didampingi Ratu Camilla dalam upaya merajut kembali komunikasi yang merenggang antara dua sekutu lama tersebut.

Kehangatan di Meja Teh, Ketegangan di Meja Hijau

Agenda utama kunjungan ini akan berpusat di Washington. Raja Charles dijadwalkan melakukan pertemuan pribadi dan jamuan teh bersama Presiden AS Donald Trump, disusul dengan jamuan makan malam megah di Gedung Putih bersama Ibu Negara Melania Trump.

Baca Juga :  Tekanan AS ke Maduro Meningkat, Kapal Induk dan Pasukan Karibia Siap Beraksi

Langkah ini dipandang sebagai penggunaan strategi “soft power” oleh Pemerintah Inggris. Harapannya, karisma monarki mampu meredakan gesekan yang muncul setelah Perdana Menteri Keir Starmer dan Presiden Trump berselisih paham mengenai operasi militer AS-Israel.

Hubungan keduanya sempat memanas setelah Trump secara terbuka menyindir Starmer dengan menyebutnya “bukan Winston Churchill” dan meremehkan kekuatan militer Inggris.

Juru bicara Istana Buckingham menegaskan bahwa misi ini adalah momentum krusial bagi kedua bangsa.

Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali dan memperbarui hubungan bilateral di tengah tantangan global yang dihadapi kedua negara,” ungkap pihak Istana.

Baca Juga :  China Guncang Dunia Teknologi, DeepSeek Tumbangkan Dominasi AI Amerika

Mengikuti Jejak Elizabeth II

Selain pertemuan di Gedung Putih, Raja Charles akan mengukir sejarah dengan menyampaikan pidato di depan Kongres AS. Ia menjadi penguasa Inggris kedua yang mendapatkan kehormatan ini setelah mendiang ibunya, Ratu Elizabeth II, pada tahun 1991.

Nuansa emosional juga akan mewarnai perjalanan ini saat pasangan kerajaan mengunjungi New York untuk memberikan penghormatan kepada keluarga korban tragedi 11 September, sebelum melanjutkan perjalanan ke Virginia dan berakhir di Bermuda.

Bayang-Bayang Kritik dan Kontroversi

Meski dibalut kemegahan, kunjungan ini tak lepas dari badai kritik. Di dalam negeri, pemimpin Partai Liberal Demokrat Ed Davey menilai diplomasi ini tidak tepat di tengah situasi politik yang tidak stabil. Namun, PM Keir Starmer membela keputusan tersebut.

Baca Juga :  Polisi Perempuan ini Rajin Sambang Warga, Ajak Jaga Kamtibmas

Menurut Starmer, peran monarki sangat vital karena mampu “menjembatani hubungan lintas generasi dan meredakan ketegangan politik.”

Di sisi lain, isu sensitif terkait kasus Jeffrey Epstein yang sempat menyeret nama Pangeran Andrew tetap membayangi. Namun, pihak istana mengambil sikap tegas untuk tidak mempertemukan Raja dengan para korban demi menghormati proses hukum.

“Pihak istana memahami posisi para korban, namun menilai keterlibatan publik dalam isu tersebut berisiko mengganggu jalannya proses hukum,” tulis pernyataan resmi Istana.

Kini, publik dunia menanti apakah kehangatan secangkir teh di Washington mampu mencairkan kebekuan diplomatik yang tengah melanda dua negara adidaya tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber