Ketegangan Global Meningkat Setelah Ancaman AS dan Blokade di Selat Hormuz

0
Iran
Ilustrasi Bendera besar Iran berkibar tertiup angin.(Foto : Istock)

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C.Langit geopolitik dunia semakin kelam pada Kamis (30/4/2026). Di Ruang Oval Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan titah tunggal yang mengguncang pasar global yaitu Iran harus menyatakan kekalahan total untuk menghentikan desing peluru dan blokade yang mencekik.

Ketegangan ini bukan sekadar retorika. Di perairan strategis, Selat Hormuz telah berubah menjadi “kuburan” ekonomi bagi Teheran. Militer AS melalui komando CENTCOM melaporkan telah mencegat kapal ke-42 yang mencoba menembus barikade. Dampaknya masif; 69 juta barel minyak Iran kini terkatung-katung di lautan tanpa pembeli.

“Mereka harus menyerah, itu saja yang harus mereka lakukan. Katakan saja, ‘Kami menyerah’, itu saja,” tegas Trump dengan nada bicara khasnya yang tanpa kompromi.

Nadi Ekonomi yang Terputus

Sentuhan dingin blokade ini sangat terasa pada angka-angka yang dirilis militer AS. Komandan CENTCOM, Brad Cooper, merinci bahwa nilai minyak yang terjebak tersebut mencapai US$6 miliar atau setara Rp103,5 triliun. Harta karun hitam itu kini menjadi beban yang tidak bisa diuangkan oleh rezim Teheran.

Baca Juga :  Wamenkes Pastikan 62 Kasus Super Flu Terdeteksi, Masyarakat Diminta Tenang

“Saat ini ada 41 kapal tanker dengan 69 juta barel minyak yang tidak bisa dijual oleh rezim Iran. Itu diperkirakan bernilai lebih dari US$ 6 miliar yang tidak dapat dinikmati secara finansial oleh kepemimpinan Iran,” jelas Cooper.

Keterpurukan ekonomi Iran pun merembet ke pasar domestik. Mata uang Rial terjun bebas ke titik nadir dalam sejarah, menembus angka 1.810.000 per dolar AS. Di sudut-sudut kota Teheran, lonjakan harga dan kelangkaan valuta asing menjadi momok baru bagi warga sipil yang baru saja mencoba bernapas setelah fase pertempuran aktif mereda.

Diplomasi di Ujung Telepon dan Perang Kripto

Menariknya, Trump kini mengubah pola diplomasinya. Alih-alih melakukan perjalanan maraton ke Pakistan untuk negosiasi tatap muka, ia memilih jalur telepon dari meja kerjanya.

Baca Juga :  Donald Trump Geram Sekutu Tolak Bantu AS di Selat Hormuz, Ketegangan Timur Tengah Memanas

“Kami melakukannya secara telepon, dan itu sangat bagus. Sangat konyol jika Anda harus terbang 18 jam hanya untuk menerima selembar kertas yang tidak Anda sukai bahkan sebelum Anda berangkat,” ujar Trump, menggambarkan efisiensi birokrasi di tengah situasi darurat.

Tak hanya di laut, perang juga berkecamuk di dunia digital. Departemen Keuangan AS secara resmi membekukan aset kripto senilai Rp5,93 triliun yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan, Washington akan mengejar setiap sen digital yang coba dilarikan Teheran ke luar negeri.

Tekanan Domestik dan Bayang-Bayang Nuklir

Namun, Washington tidak sepenuhnya tanpa guncangan. Di dalam negeri, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menghadapi desakan mundur dari Kongres. Ia dikritik keras atas tewasnya enam tentara AS di Kuwait akibat serangan drone yang dianggap bisa dicegah jika sistem pertahanan udara memadai.

Baca Juga :  SATU DEKADE BOGOR TODAY

“Anda tetap mengirim prajurit kami ke sana meskipun mereka tidak siap menghadapi serangan drone. Anda seharusnya mengundurkan diri,” desak anggota DPR Pat Ryan dalam sidang yang berlangsung panas.

Di tengah kekacauan ini, Kepala PBB untuk urusan nuklir (IAEA), Rafael Grossi, memberikan peringatan yang tak kalah mengkhawatirkan. Berdasarkan estimasi citra satelit, mayoritas uranium yang diperkaya milik Iran diduga masih berada di situs Isfahan yang sempat dibombardir. “Kami belum dapat memeriksa apakah material tersebut masih ada dan segel-segel IAEA tetap di sana,” aku Grossi.

Saat ketegangan memuncak, sebuah panggilan telepon dari Kremlin juga masuk ke Gedung Putih. Vladimir Putin mencoba menengahi dengan mengusulkan gencatan senjata di Ukraina untuk menghormati berakhirnya Perang Dunia II bulan depan sebuah gestur diplomasi di tengah dunia yang seolah sedang menahan napas menunggu langkah Iran selanjutnya yaitu menyerah atau terus bertahan dalam cekikan blokade.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com