NARASITODAY.COM,JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik pedas terhadap negara-negara sekutu NATO. Kemarahan ini dipicu oleh penolakan aliansi tersebut untuk membantu AS membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz yang kini lumpuh akibat eskalasi perang antara AS-Israel melawan Iran.
Dalam pernyataannya yang berapi-api, Trump melabeli sikap pasif para sekutu sebagai “kesalahan bodoh” dan menegaskan bahwa Washington siap melangkah tanpa bantuan pihak manapun.
Kritik Pedas Terhadap Aliansi
Melalui platform Truth Social, Trump mengekspresikan kekecewaannya terhadap ketidakinginan anggota NATO untuk terlibat dalam operasi militer di kawasan teluk. Ia menilai hubungan aliansi selama ini tidak memberikan keuntungan timbal balik bagi Amerika Serikat.
“Amerika Serikat telah diberi tahu oleh sebagian besar ‘sekutu’ NATO kami bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam operasi militer kami melawan rezim teroris Iran di Timur Tengah,” tulis Trump.
Ia menambahkan sindiran tajam mengenai beban finansial yang selama ini ditanggung AS untuk melindungi negara-negara anggota lainnya.
“Saya selalu menganggap NATO, di mana kita menghabiskan ratusan miliar dolar setiap tahun untuk melindungi negara-negara ini, sebagai jalan satu arah. Kita melindungi mereka, tetapi mereka tidak melakukan apa pun untuk kita, terutama di saat dibutuhkan.”
Meskipun permintaan pengerahan kapal perang AS ditolak secara efektif oleh NATO, Trump tetap menunjukkan sikap defian. Baginya, kekuatan militer Amerika Serikat masih cukup untuk menghadapi situasi di Selat Hormuz, jalur yang menjadi urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dunia.
“Kami tidak membutuhkan bantuan siapa pun!” tegas Trump pada Rabu (18/3/2026), sebagaimana dilansir The Independent.
Padahal, situasi di lapangan kian pelik setelah Garda Revolusi Iran mengklaim kendali penuh atas kawasan tersebut, yang memicu lonjakan harga minyak global dan mengganggu stabilitas energi dunia.
Keretakan di Internal Gedung Putih
Di tengah tekanan luar negeri, Trump juga harus menghadapi guncangan di dalam negeri. Pada pekan ketiga konflik, sekutu dekatnya, Joe Kent, resmi menanggalkan jabatannya sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS.
Dalam surat pengunduran dirinya yang provokatif, Kent secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap arah kebijakan perang saat ini.
“I cannot, with a clean conscience, support the ongoing war in Iran (Saya tidak dapat, dengan hati nurani yang bersih, mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran),” tulis Kent. Ia bahkan secara spesifik menyebut adanya tekanan dari lobi-lobi tertentu sebagai pemicu konflik.
Upaya Diplomatik Eropa
Sementara Washington memilih jalur konfrontasi, Uni Eropa melalui Kepala Kebijakan Luar Negeri, Kaja Kallas, mulai menggalang dukungan regional dari Mesir hingga Yordania untuk mencari solusi damai. Kallas memperingatkan bahwa konflik ini akan jauh lebih sulit dihentikan daripada saat dimulainya.
Hingga saat ini, perang telah memicu krisis kemanusiaan hebat dengan jutaan pengungsi di Iran dan Lebanon. Meski operasi gabungan AS-Israel terus menekan, laporan intelijen AS justru memperkirakan rezim Iran masih memiliki ketahanan untuk bertahan, membuat masa depan perdamaian di kawasan ini tetap dibayangi ketidakpastian.***
Sumber : Berbagai Sumber














