BMKG Ungkap Indikasi El Nino Mulai Terjadi, Potensi Kekeringan Semakin Meningkat di Indonesia

0
BMKG
Ilustrasi Tanaman gandum di lahan kering selama musim panas.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Langit Indonesia mulai menunjukkan wajah yang berbeda. Di saat debu jalanan mulai lebih sering beterbangan dan terik matahari terasa lebih menyengat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membawa kabar yang menuntut kewaspadaan yaituu dimana fenomena El Nino resmi menyapa Bumi Pertiwi.

Berdasarkan Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III April 2026 yang dirilis Senin (4/5/2026), indeks ENSO bulanan telah mencapai angka +0.93. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa “El Nino Condition” bukan lagi sekadar prediksi, melainkan realitas yang mulai bergerak masuk.

“El Nino event diprediksi mulai terjadi pada periode Mei-Juni-Juli 2026,” tulis BMKG dalam laporan resminya.

Kemarau yang “Tidak Biasa”

Meskipun fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini terpantau masih berada pada fase netral dengan indeks -0.117, kehadiran El Nino di tengah musim kemarau tetap menjadi alarm bagi sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.

Baca Juga :  Timnas Indonesia U-17 Siap Hadapi Korea Selatan di Piala Asia U-17 2025

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kombinasi antara musim kemarau alami dan fenomena El Nino akan menciptakan kondisi yang jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Menurut data BMKG, saat ini sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau. Sedangkan pada semester kedua tahun 2026, fenomena El Nino lemah hingga moderat berpeluang 70-90 persen terjadi,” ujar Faisal sebagaimana dikutip dari keterangan resmi BMKG.

Faisal menekankan bahwa meskipun kekuatannya diprediksi tidak sehebat tahun 2015 atau 2023, masyarakat tidak boleh lengah. Bahaya utama justru terletak pada titik temu antara siklus tahunan dan fenomena iklim global ini.

Baca Juga :  Indonesia Tunda Pembahasan Dewan Perdamaian di Tengah Perang Timur Tengah

“Musim Kemarau dan El Nino itu dua fenomena yang terpisah. Yang kita khawatirkan adalah ketika musim kemarau, fase El Nino-nya sedang aktif. Kondisi inilah yang terjadi pada tahun 2015, 2019, 2023, serta diprediksi mulai tahun 2026 ini,” tegas Faisal.

Peringatan Dini: Jawa Timur dan Sulawesi Tengah Siaga

Hingga awal Mei 2026, tercatat sebanyak 12,8% wilayah Indonesia atau sekitar 90 Zona Musim (ZOM) telah resmi memasuki musim kemarau. Wilayah-wilayah ini membentang mulai dari sebagian kecil Aceh, Jakarta, Jawa Barat, hingga ke wilayah Maluku.

Seiring dengan berkurangnya curah hujan, BMKG juga telah menerbitkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis untuk Dasarian I Mei 2026. Saat ini, beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur dan Sulawesi Tengah berada dalam status Waspada.

Baca Juga :  Fenomena Karpet Bemper Lebar di Truk Tronton Marak di Cigudeg, Sangat Membahayakan

Masyarakat diimbau untuk mulai bijak dalam mengelola cadangan air dan waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG memastikan akan terus memperbarui data agar prediksi ke depan tetap akurat demi meminimalisir dampak kekeringan bagi warga.

Wilayah yang mulai memasuki musim kemarau (Mei 2026):

  • Sumatera: Sebagian kecil Aceh, Sumut, Riau, dan Kepulauan Riau.
  • Jawa: Sebagian Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, dan Jatim.
  • Bali & Nusa Tenggara: Sebagian Bali, NTB, dan NTT.
  • Sulawesi & Maluku: Sebagian Gorontalo, Sulteng, Sulsel, Sultra, dan Maluku.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com