NARASITODAY.COM, NEW YORK – Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik didih baru setelah Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain secara resmi mengutuk serangan rudal dan drone yang diluncurkan Iran baru-baru ini. Di hadapan markas besar PBB, seruan untuk tindakan global yang nyata mulai bergema, menuntut pertanggungjawaban atas stabilitas energi dunia yang kini terancam.
Pertemuan tertutup Dewan Keamanan PBB yang digelar atas permintaan Bahrain pada Selasa lalu, menjadi panggung bagi negara-negara Arab untuk menyuarakan kekhawatiran mereka. Isunya bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan ancaman terhadap jalur nadi ekonomi global di Selat Hormuz.
Malam Pencegatan di Langit Fujairah
Duta Besar UEA, Mohamed Abushahab, membeberkan rincian mengerikan mengenai serangan yang terjadi pada 4 Mei tersebut. Ia mengungkapkan betapa masifnya upaya Teheran untuk mengguncang infrastruktur sipil mereka.
“Iran meluncurkan 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat UAV (drone) langsung ke Uni Emirat Arab,” ungkap Abushahab.
Meski sistem pertahanan udara UEA bekerja efektif, serpihan konflik tetap memakan korban. “Serangan-serangan ini termasuk serangan drone, yang mengakibatkan kebakaran di Zona Industri Minyak Fujairah, infrastruktur energi sipil yang sangat penting. Pertahanan udara UEA berhasil mencegat sebagian besar ancaman ini, membatasi kerusakan. Meskipun demikian, tiga warga sipil terluka,” tambahnya dengan nada getir.
Menurut Abushahab, tindakan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Resolusi Dewan Keamanan 2817. “Kehendak komunitas internasional tidak bisa lebih jelas lagi. Ketidakpatuhan Iran tidak bisa lebih terang-terangan lagi,” tegasnya.
Solidaritas di Selat Hormuz
Senada dengan UEA, Duta Besar Bahrain Jamal Fares Alrowaiei menegaskan kembali “solidaritas penuh” negaranya. Baginya, serangan terhadap satu negara di kawasan adalah ancaman bagi semua.
“Keamanan kawasan tidak dapat dipisahkan, dan serangan semacam itu harus segera dihentikan… serangan tersebut membutuhkan tanggapan yang kredibel, bersatu, dan tegas dari komunitas internasional dan khususnya dari Dewan Keamanan,” kata Alrowaiei sebagaimana dilansir dari Al Arabiya, Kamis (7/5/2026).
Krisis ini terlihat dari bagaimana gangguan di satu titik sempit di peta dunia Selat Hormuz bisa berdampak pada meja makan keluarga di belahan dunia lain. Gangguan pada kapal komersial bukan sekadar masalah navigasi, melainkan pemicu inflasi global.
“Apa yang terjadi di Selat Hormuz tidak hanya berhenti di Selat Hormuz. Hal itu mempengaruhi pasar energi, rantai pasokan, harga pangan, dan stabilitas ekonomi di seluruh dunia,” papar Abushahab, menggambarkan betapa krusialnya jalur tersebut.
Menanti Ketegasan Dewan Keamanan
Saat ini, draf resolusi yang dirancang oleh Amerika Serikat bersama dukungan dari Bahrain, Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Qatar sedang digodok. Dokumen tersebut berisi tuntutan keras agar Iran menghentikan segala bentuk serangan dan pemasangan ranjau di perairan internasional.
Jika Resolusi ini disahkan, konsekuensinya akan sangat berat. Iran tidak hanya terancam sanksi ekonomi tambahan, tetapi draf tersebut secara potensial membuka peluang bagi penggunaan kekuatan militer jika Teheran tetap mengabaikan peringatan untuk menjamin keamanan pelayaran komersial dunia. Kini, mata dunia tertuju pada ruang-ruang tertutup di PBB, menanti apakah konsensus akan tercapai sebelum ketegangan berubah menjadi konfrontasi terbuka.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














