Arab Saudi Mulai Kurangi Ketergantungannya pada AS dan Tingkatkan Hubungan Pertahanan dengan Pakistan

0
Arab Saudi
Ilustrasi dua bendera berkibar Arab Saudi dan Pakistan.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,RIYADH – Langit Timur Tengah yang kian mendung oleh kepulan asap konflik, Arab Saudi mulai menulis ulang strategi pertahanannya. Kerajaan kini secara resmi mempererat pelukan militer dengan Pakistan, sebuah langkah strategis yang menandakan keraguan mendalam Riyadh terhadap komitmen perlindungan Amerika Serikat (AS).

Pergeseran ini ditegaskan melalui implementasi Strategic Military Defense Agreement (SMDA) yang ditandatangani oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan PM Pakistan Shehbaz Sharif. Pakta ini bukan sekadar nota kesepahaman biasa tapi ia membawa doktrin bahwa serangan terhadap salah satu negara adalah serangan bagi keduanya.

Analis politik dari Universitas RUDN Rusia, Farhad Ibragimov, melihat langkah ini sebagai titik balik sejarah bagi dunia Islam. Dengan Pakistan yang memiliki sekitar 150-160 hulu ledak nuklir, Saudi seolah mendapatkan jaminan keamanan yang selama ini digantungkan pada Washington.

Baca Juga :  China Resmi Kritik Tindakan AS Menyita Kapal Iran, Desak Kembali ke Dialog Damai

“Perjanjian ini secara efektif menciptakan ‘payung nuklir’ pertama di dunia Islam,” tulis Ibragimov dalam analisanya, sebagaimana dikutip dari RT, Jumat (8/5/2026).

Meskipun kemampuan nuklir Islamabad tidak tertuang secara eksplisit dalam dokumen hukum SMDA, keberadaannya menjadi “gajah di dalam ruangan” yang memberikan efek pencegahan (deterrence) luar biasa bagi musuh-musuh Kerajaan.

Keretakan Kepercayaan pada Washington

Sentimen “saatnya mandiri” ini muncul bukan tanpa alasan. Riyadh mulai merasa bahwa AS, sekutu tradisionalnya sejak dekade silam, kini lebih sibuk dengan agendanya sendiri dan seringkali membiarkan sekutu Teluknya terpapar risiko geopolitik, terutama dalam eskalasi konflik Iran-Israel.

Baca Juga :  Pemerintah Terapkan One Way hingga Ganjil Genap Saat Mudik Lebaran 2026

“Saudi melihat AS semakin mengutamakan kepentingannya sendiri,” ujar Ibragimov menjelaskan alasan di balik memudarnya kepercayaan Riyadh.

Kekhawatiran utama Saudi adalah posisi Iran yang diprediksi akan keluar dari krisis saat ini dengan pengaruh geopolitik yang justru lebih kuat.

“Riyadh akan menghadapi tetangga yang jauh lebih kuat dibanding sebelumnya,” tambah Ibragimov.

Masalah Kelangsungan Hidup

Diapit oleh ambisi regional Iran dan agresivitas pemerintahan Benjamin Netanyahu di Israel, Arab Saudi merasa berada di posisi terjepit. Dalam konteks inilah, kehadiran militer Pakistan yang sudah mulai mengirimkan jet tempur ke Pangkalan Udara King Abdul Aziz pada April lalu menjadi sangat krusial.

Ibragimov menekankan bahwa aliansi ini telah bergeser dari sekadar kerja sama sejarah sejak 1967 menjadi kebutuhan eksistensial.

Baca Juga :  Kematian Tentara dan Penyerangan di Palmyra Memicu Serangan Udara Besar-Besaran dari AS

“Kerentanan ini membuat kemitraan dengan Pakistan bukan lagi sekadar isyarat diplomatik, melainkan masalah kelangsungan hidup,” tegasnya.

Meski memberikan komitmen pertahanan penuh, Pakistan tetap memainkan peran diplomatik yang sangat halus. Islamabad berupaya keras agar tidak terseret ke dalam perang terbuka melawan Iran, tetangga langsungnya.

Pakistan memposisikan diri sebagai penyeimbang kekuatan yang hadir untuk mencegah perang, bukan menyulutnya.

“Pakistan mengirimkan sinyal pencegahan daripada agresi,” pungkas Ibragimov.

Dengan strategi ini, Islamabad berhasil memperluas pengaruhnya di jantung Timur Tengah sembari memberikan rasa aman bagi Riyadh, di saat bayang-bayang pengaruh Amerika Serikat mulai memanjang dan menjauh dari gurun pasir Saudi.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com