Ketegangan di Semenanjung Korea Meningkat dengan Pengumuman Militer Provokatif dari Korsel Utara

0
Semenanjung Korea
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.Foto : bbc.com

NARASITODAY.COM, PYONGYANG – Semenanjung Korea kembali berada dalam bayang-bayang ketegangan tinggi. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, secara resmi mengumumkan rencana militer provokatif yang menargetkan jantung pertahanan Korea Selatan.

Dalam pernyataan yang dirilis Jumat (08/05/2026), Pyongyang bersiap mengerahkan sistem artileri jarak jauh baru dan meresmikan kapal perusak tercanggihnya dalam hitungan minggu ke depan.

Langkah ini bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan penegasan atas doktrin “dua negara” yang kini tertanam dalam konstitusi baru Korea Utara, menghapus impian penyatuan damai yang telah bertahan selama puluhan tahun.

Ancaman di Depan Mata Seoul

Dalam kunjungannya ke pabrik amunisi pada Rabu (6/5/2026), Kim Jong Un memeriksa langsung produksi self-propelled gun-howitzer 155 mm. Senjata ini direncanakan untuk memperkuat unit artileri di perbatasan selatan, sebuah posisi strategis yang mampu menjangkau wilayah metropolitan Seoul yang berpenduduk 10 juta jiwa.

Baca Juga :  Bentrok di Perbatasan Thailand-Kamboja Picu Ketegangan Baru, Puluhan Warga Dilaporkan Terluka

Mengutip laporan Korean Central News Agency (KCNA), Kim memuji kemampuan jangkauan senjata kaliber besar tersebut yang menembus lebih dari 60 kilometer.

“Perluasan jangkauan serangan yang cepat dan peningkatan kemampuan serangan yang luar biasa akan memberikan perubahan dan keuntungan besar dalam operasi darat tentara kita,” ujar Kim Jong Un sebagaimana dikutip oleh KCNA.

Meskipun perhatian dunia sering tertuju pada rudal nuklir, kehadiran artileri berat di sepanjang perbatasan menjadi ancaman konvensional yang paling nyata bagi stabilitas keamanan di wilayah Selatan.

Tidak hanya mengasah taring di darat, Kim Jong Un juga menunjukkan ambisinya di lautan. Pada Kamis, ia menaiki kapal perusak Choe Hyon di lepas pantai barat untuk meninjau manuver kapal perang terbesar dan tercanggih milik Korut tersebut.

Baca Juga :  Anggota Brimob Dipecat Permanen Tewaskan Siswa MTS di Tual

Momen ini terasa lebih personal karena Kim turut membawa putri remajanya, yang oleh intelijen Korea Selatan disebut-sebut sebagai calon pewaris takhta, untuk makan bersama para kru kapal. Puas dengan performa kapal tersebut, Kim memberikan mandat tegas agar armada itu segera bertugas.

“Setelah mengapresiasi semua pengujian untuk komisioning operasional kapal perusak tersebut berjalan dengan lancar, Kim memerintahkan otoritas untuk menyerahkan kapal itu ke angkatan laut pada pertengahan Juni sesuai jadwal,” tulis laporan KCNA.

Baca Juga :  Spektakuler! Mbappe dan Camavinga Bawa Real Madrid Raih Poin Penuh atas Bilbao

Eskalasi militer ini berakar pada perubahan fundamental politik luar negeri Pyongyang. Korea Selatan baru-baru ini mengungkapkan bahwa konstitusi baru Korea Utara telah resmi membuang komitmen penyatuan damai.

Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, Korea Selatan kini ditetapkan bukan lagi sebagai “saudara yang terpisah”, melainkan sebagai musuh paling bebuyutan dan permanen. Langkah ini secara efektif memutus jalur diplomasi yang sempat diupayakan oleh pemerintahan liberal di Seoul.

Sejak kegagalan dialog tingkat tinggi dengan Amerika Serikat pada 2019, Korea Utara tampaknya telah memilih jalannya sendiri yaitu ia menutup pintu negosiasi dan terus memperluas gudang senjata nuklir serta kekuatan militer konvensionalnya demi menjaga kedaulatan di bawah bayang-bayang permusuhan abadi.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com