NARASITODAY.COM, SEPANG – Industri penerbangan global kini menghadapi turbulensi hebat yang dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar jet (avtur) akibat eskalasi perang AS-Israel di Iran. Krisis energi ini disebut-sebut memberikan tekanan yang jauh lebih destruktif dibandingkan badai pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan langit dunia beberapa tahun lalu.
Bagi para petinggi maskapai, situasi saat ini bukan lagi sekadar tantangan bisnis, melainkan perjuangan untuk bertahan hidup di tengah biaya operasional yang tak terkendali.
CEO AirAsia, Tony Fernandes, mengungkapkan keterkejutannya atas kecepatan perubahan situasi ekonomi global. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia mengaku awalnya merasa telah melewati ujian terberat saat menghadapi pandemi, namun lonjakan harga avtur hingga tiga kali lipat telah mengubah pandangannya.
“Anda bangun suatu hari dan biaya utama Anda telah meningkat tiga kali lipat – ini adalah pengalaman yang cukup baru bagi saya dan saya telah melalui banyak hal dalam hidup saya,” ujar Tony Fernandes dengan nada getir.
Sentimen serupa disuarakan oleh CEO Ryanair, Michael O’Leary. Ia memberikan peringatan keras bahwa masa depan banyak maskapai di Eropa kini berada di ujung tanduk jika tren kenaikan harga minyak dunia tidak segera melandai.
“Jika harga terus berlanjut di US$150 per barel hingga Juli, Agustus, September, maka Anda akan melihat maskapai penerbangan Eropa bangkrut,” tegas O’Leary.
Gelombang Pembatalan Massal
Dampak dari meroketnya biaya bahan bakar ini mulai dirasakan langsung oleh penumpang di seluruh dunia. Berdasarkan data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium, industri ini telah memangkas sekitar 13.000 jadwal penerbangan hanya pada bulan Mei saja.
Raksasa dirgantara Jerman, Lufthansa, bahkan mengambil langkah drastis dengan membatalkan 20.000 penerbangan jarak pendek hingga bulan Oktober mendatang. Langkah efisiensi serupa juga diambil oleh Scandinavian Airlines, Turkish Airlines, hingga Air China demi menekan kerugian yang kian membengkak.
Tumbangnya Sang Pionir Berbiaya Rendah
Tragedi terbesar dari krisis ini terjadi di Amerika Utara. Spirit Airlines, maskapai penerbangan penumpang terbesar ketujuh di kawasan tersebut, secara mengejutkan mengumumkan penghentian operasionalnya pada Sabtu pekan lalu.
Penutupan maskapai berbiaya rendah (LCC) asal AS ini dipicu oleh ketidakmampuan perusahaan menanggung kenaikan harga bahan bakar yang terjadi secara tiba-tiba dan berkelanjutan dalam beberapa minggu terakhir. Keputusan pahit ini diperkirakan akan menyisakan duka bagi sektor ketenagakerjaan, dengan sekitar 17.000 karyawan yang terancam kehilangan pekerjaan dalam semalam.
Kini, dengan harga minyak yang masih fluktuatif akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, industri penerbangan dunia hanya bisa berharap pada keajaiban diplomasi agar “api” di ladang minyak segera padam sebelum lebih banyak lagi maskapai yang terpaksa melipat sayap mereka selamanya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














