NARASITODAY.COM, MEXICO CITY – Sebuah mobil yang melaju di jalan raya dekat ibu kota Meksiko mendadak berubah menjadi bola api pada 28 Maret lalu. Ledakan itu menewaskan Francisco Beltran alias “El Payin”, tokoh menengah di Kartel Sinaloa, beserta sopirnya. Di permukaan, otoritas Meksiko tampak menutup rapat detail kejadian, namun di balik layar, jejak sepatu lars agen rahasia Amerika Serikat mulai terendus.
Laporan eksklusif CNN International mengungkapkan bahwa ledakan tersebut bukanlah insiden biasa, melainkan bagian dari peningkatan operasi rahasia mematikan oleh Central Intelligence Agency (CIA). Di bawah arahan “Ground Branch” unit paramiliter elit CIA Washington kini dilaporkan tengah melancarkan kampanye “pembunuhan terarah” terhadap jaringan kartel narkoba di wilayah Meksiko.
Strategi Perang di Halaman Belakang
Operasi ini menandai pergeseran drastis kebijakan luar negeri AS. Langkah ini diambil setelah Presiden Donald Trump menetapkan sejumlah kartel Meksiko sebagai organisasi teroris asing. Strategi yang digunakan pun kini menyerupai operasi kontra-terorisme di Timur Tengah: menghancurkan organisasi dengan menetralisir jaringan dari level atas hingga operator lapangan.
“Level operasi mematikan mereka meningkat sangat signifikan,” ungkap salah satu sumber yang mengetahui operasi tersebut, Rabu (13/5/2026). “Ini merupakan ekspansi besar dari apa yang selama ini bersedia dilakukan CIA di Meksiko.”
Keterlibatan agen CIA kini tidak lagi sebatas berbagi data intelijen di balik meja. Dalam beberapa kasus, mereka disebut terjun langsung ke lapangan untuk memfasilitasi eksekusi terhadap target-target yang dianggap berbahaya bagi keamanan nasional AS.
Benturan Kedaulatan dan Protes Claudia Sheinbaum
Ketegangan diplomatik pun memuncak. Berdasarkan Konstitusi Meksiko, agen asing dilarang keras terlibat dalam operasi penegakan hukum tanpa izin pemerintah federal. Operasi senyap CIA ini dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan yang serius oleh pemerintahan Presiden Claudia Sheinbaum.
“Tidak boleh ada agen dari lembaga pemerintah AS mana pun yang beroperasi di wilayah Meksiko,” tegas Sheinbaum dalam konferensi pers baru-baru ini.
Senada dengan sang Presiden, Sekretaris Keamanan Meksiko Omar Garcia Harfuch membantah adanya pembiaran terhadap operasi mematikan sepihak tersebut. “Pemerintah Meksiko secara kategoris menolak versi apa pun yang mencoba menormalisasi atau membenarkan operasi rahasia mematikan oleh lembaga asing,” ujarnya.
Antara Infiltrasi dan “Netralisasi”
Di sisi lain, Washington dikabarkan mulai kehilangan kepercayaan terhadap aparat pusat di Mexico City karena dugaan infiltrasi kartel di berbagai institusi pemerintah. Untuk menyiasatinya, CIA dilaporkan mulai merangkul pejabat daerah dan aparat lokal demi menjaga kerahasiaan misi dan menghindari kebocoran informasi.
Dokumen strategi kontra-terorisme terbaru AS menegaskan bahwa “netralisasi” kartel di Belahan Barat kini menjadi prioritas utama. Dalam dokumen tersebut, AS memberikan sinyal bahwa kedaulatan negara tetangga bisa menjadi nomor dua jika menyangkut keamanan domestik mereka.
“Kami akan bekerja sama dengan pemerintah lokal jika mereka bersedia dan mampu,” tulis dokumen strategi tersebut. “Jika tidak, kami tetap akan mengambil tindakan apa pun yang diperlukan untuk melindungi negara kami.”
Kini, Meksiko berada dalam bayang-bayang perang baru. Bukan sekadar perang antar-kartel, melainkan perang rahasia yang melibatkan kekuatan intelijen terbesar dunia, yang berisiko memicu eskalasi kekerasan tanpa henti di sepanjang perbatasan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














