CIA Diam-diam Bangun Keberadaan Permanen di Venezuela dalam Upaya Pengaruh Pasca-Maduro

0
CIA
Ilustrasi Detail situs web Badan Intelijen Pusat CIA. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTON — Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dilaporkan tengah bekerja secara senyap untuk membangun kehadiran permanen di Venezuela. Langkah ini disebut menjadi ujung tombak strategi pemerintahan Donald Trump dalam menanamkan pengaruh kuat terhadap masa depan negara kaya minyak tersebut setelah penangkapan Nicolás Maduro.

Menurut sejumlah sumber yang familiar dengan perencanaan, diskusi antara CIA dan Departemen Luar Negeri AS berfokus pada bentuk “jejak kaki” Amerika di Venezuela, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Meski Deplu nantinya akan memimpin kehadiran diplomatik resmi, pemerintahan Trump lebih mengandalkan CIA untuk memulai proses masuk kembali ke Venezuela karena situasi keamanan yang belum stabil.

Baca Juga :  Dari Pembalap ke Penyanyi? Rachel Cia Siap Bikin Geger Dunia Musik Indonesia!

“Negara (Deplu) memasang bendera, tapi CIA yang memegang pengaruh sebenarnya,” ujar salah satu sumber kepada CNN International, Rabu (28/1/2026).

Strategi CIA di Lapangan

Tujuan jangka pendek CIA mencakup membangun landasan bagi diplomasi resmi di masa depan, membina hubungan dengan tokoh politik lokal, serta menjamin keamanan personel AS. Melalui pendirian kantor lampiran, agen CIA diharapkan mampu membuka saluran komunikasi rahasia dengan intelijen Venezuela, sekaligus melakukan kontak informal dengan pemerintah maupun oposisi untuk memitigasi potensi ancaman.

Direktur CIA, John Ratcliffe, menjadi pejabat tinggi pertama era Trump yang mengunjungi Venezuela pasca-operasi Maduro. Ia bertemu Presiden Interim Delcy Rodriguez dan jajaran militer, dengan pesan kunci bahwa Venezuela tidak boleh lagi menjadi tempat aman bagi musuh-musuh Amerika. CIA juga akan memberikan pengarahan terkait aktivitas China, Rusia, dan Iran di negara tersebut.

Baca Juga :  Gempa Kembar M 7,2 dan M 7,5 Guncang Venezuela, Ratusan Tewas dan Ribuan Luka-Luka

“Jika ingin memberikan pengarahan terkait kekhawatiran soal China dan Rusia, itu tugas agen intelijen, bukan Deplu,” kata mantan pejabat pemerintah AS.

Operasi Rahasia dan Pertimbangan Politik

Sumber menyebut perwira CIA sudah berada di lapangan sejak Agustus lalu, melacak pola pergerakan Maduro sebelum penangkapannya. Bahkan, keputusan Trump mendukung Delcy Rodriguez dibandingkan oposisi Maria Machado didasarkan pada analisis CIA mengenai dampak kosongnya kursi kepresidenan pasca-Maduro.

Baca Juga :  Rudy Susmanto Dukung Turnamen Nusantara Open 2025 Demi Lahirkan Generasi Emas Sepak Bola Indonesia

Diplomasi dan Ambisi Ekonomi

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS mulai menyiapkan langkah diplomatik dengan menunjuk diplomat veteran Laura Dogu sebagai pemimpin Unit Urusan Venezuela. Tim teknis dan keamanan telah diterjunkan ke Caracas untuk menilai kelayakan gedung kedutaan yang ditutup sejak 2019.

Langkah ini sejalan dengan ambisi Presiden Trump agar perusahaan minyak AS segera beroperasi kembali di Venezuela, guna memimpin proses pembangunan ekonomi negara tersebut. Namun, tantangan besar masih membayangi karena situasi keamanan yang fluktuatif serta sejarah panjang sentimen anti-CIA yang diwariskan rezim Maduro.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com