Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran Setelah Permintaan Pemimpin Regional

0
operasi militer
Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.Foto : bbc.com

NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Hanya beberapa jam sebelum jet-jet tempur Amerika Serikat dijadwalkan lepas landas menuju langit Teheran, sebuah keputusan dramatis dari balik meja Oval Gedung Putih mengubah segalanya. Bayang-bayang perang terbuka yang siap merobek sisa-sisa gencatan senjata di Timur Tengah mendadak surut, digantikan oleh diplomasi darurat di menit-menit terakhir. Telepon berdering dari tiga pemimpin kekuatan regional Arab, meminta satu hal kepada Presiden Donald Trump yaitu menahan diri dan menurunkan moncong senjata.

Secara mengejutkan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembatalan mendadak rencana agresi militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan meluncur pada hari Selasa.

Mengutip laporan dari CNBC International, keputusan krusial tersebut diumumkan langsung oleh Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social. Trump menegaskan bahwa perintah pembatalan operasi udara agresif ini diberikan langsung kepada jajaran tertinggi Pentagon setelah menerima permohonan diplomatik khusus dari para sekutu dekatnya di Timur Tengah.

Tiga pemimpin Arab yang secara langsung meminta penundaan tersebut adalah Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

“I have informed the US military leaders that we will NOT be carrying out the scheduled strike against Iran tomorrow given the request of the Emir of Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, the Crown Prince of Saudi Arabia Mohammed bin Salman, and the President of the United Arab Emirates Mohammed bin Zayed Al Nahyan,” tulis Donald Trump dalam unggahannya di Truth Social, dikutip Selasa (19/5/2026).

Baca Juga :  Warga Amerika Serikat Ramai-ramai Ajukan Visa Jangka Panjang ke Prancis Pasca Pilpres 2024

Sebelum unggahan tersebut gempar di media sosial, publik tidak mencium adanya indikasi jelas bahwa Washington tengah berada dalam posisi siap menggempur Iran. Kendati demikian, dalam wawancara terpisah dengan New York Post pada Senin pagi, Trump sempat melemparkan gertakan dengan menyebut bahwa pihak Teheran sebenarnya sudah tahu apa yang akan segera menimpa mereka.

Siaga Tempur dan Tenggat Waktu Singkat

Niat awal Trump untuk melanjutkan opsi militer aktif dipicu oleh sikap Teheran yang dinilai tidak memadai dalam merespons klausul kesepakatan damai. Berbicara dalam sebuah acara di Gedung Putih pada Senin sore, Trump membenarkan bahwa militer AS sebenarnya sudah berada dalam posisi siap tempur untuk melancarkan serangan masif. Namun, ia menekankan bahwa penundaan ini bersifat sementara sembari memantau progres negosiasi.

“Kami sedang bersiap untuk melakukan serangan yang sangat besar besok. Saya menundanya untuk sementara waktu, mudah-mudahan mungkin selamanya, tetapi kemungkinan untuk sementara waktu karena kita telah melakukan diskusi yang sangat besar dengan Iran, dan kita akan melihat apa hasilnya,” ujar Donald Trump di Gedung Putih.

Baca Juga :  Iran Tunjuk Mojtaba Khamenei Gantikan Ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi

Trump juga menggarisbawahi bahwa kelonggaran waktu yang ia berikan sangatlah terbatas. Ia menetapkan syarat mati yang tidak bisa ditawar oleh Iran jika ingin eskalasi senjata ini disudahi sepenuhnya.

“Saya telah diminta oleh banyak negara untuk menunda serangan massal terhadap Iran selama dua atau tiga hari, waktu yang singkat, karena mereka berpikir bahwa mereka sudah sangat dekat untuk mencapai kesepakatan,” tutur Trump menjelaskan.

“Jika Iran merasa puas dengan kesepakatan di mana mereka tidak mendapatkan senjata nuklir, kita mungkin juga akan merasa puas,” kata Trump menambahkan.

Melalui narasinya di media sosial, Trump mengklaim ketiga pemimpin regional tersebut melihat adanya titik terang dalam proses negosiasi yang tengah digodok bersama para mitra.

“Negosiasi serius sekarang sedang berlangsung, dan menurut pendapat mereka, sebagai Para Pemimpin Besar dan Sekutu, sebuah Kesepakatan akan tercapai, yang akan sangat dapat diterima oleh Amerika Serikat, serta semua Negara di Timur Tengah, dan sekitarnya. Kesepakatan ini, yang terpenting, akan mencakup TIDAK ADA SENJATA NUKLIR UNTUK IRAN!” tulis Trump menegaskan.

Pasukan Tetap di Posisi Siaga Satu

Baca Juga :  Ketua DPRD Kabupaten Bogor Pastikan Layanan Pendidikan dan Kesehatan di Bogor Barat Berjalan Optimal

Meski serangan untuk hari Selasa dibatalkan, Trump tetap memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine untuk mempertahankan status siaga satu. Pasukan AS diinstruksikan untuk langsung melancarkan gempuran skala penuh tanpa penundaan sedikit pun jika draf kesepakatan damai berakhir buntu.

Di tengah situasi Washington yang genting, Menhan Hegseth justru dilaporkan melakukan perjalanan ke Kentucky pada hari Senin untuk menghadiri agenda politik bersama kandidat DPR dari Partai Republik guna mendepak petahana Thomas Massie sosok yang ingin dikeluarkan Trump dari Kongres.

Sementara itu di medan konflik yang sebenarnya, poros militer AS dan Iran masih terjebak dalam kebuntuan ekonomi dan militer di Selat Hormuz. Jalur pengiriman minyak global yang sangat vital tersebut lumpuh akibat aksi saling blokade selama perang, hingga mencegah sebagian besar kapal tangki untuk melintas.

Perebutan kendali atas selat strategis ini telah merusak pondasi gencatan senjata yang dimulai hampir enam minggu lalu. Walau secara nominal gencatan senjata masih berlaku, di lapangan kesepakatan tersebut telah berulang kali dinodai oleh kontak senjata harian. Bahkan pada pekan lalu, Trump sempat melontarkan pernyataan sinis bahwa kondisi gencatan senjata saat ini berada dalam fase kritis.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com