NARASITODAY.COM,JAKARTA – Dunia musik internasional dirundung duka mendalam. Peabo Bryson, penyanyi balada soul ikonis yang suaranya telah menjadi lagu latar masa kecil jutaan orang di seluruh dunia, mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa (2/6/2026). Musisi legendaris tersebut wafat di usia 75 tahun, hanya berselang beberapa hari setelah dirinya terserang penyakit strok.
Kabar kepergian sang maestro dikonfirmasi langsung oleh pihak keluarga melalui sebuah pernyataan resmi. Mereka menyampaikan bahwa Bryson berpulang dengan damai, dikelilingi oleh orang-orang tercinta yang menemani di sisi ranjangnya hingga saat-saat terakhir.
“Kami sangat terharu oleh besarnya curahan kasih sayang, doa, dan dukungan dari para penggemar, sahabat, serta rekan kerja di seluruh dunia,” ungkap keluarga Bryson dalam taklimat yang dibagikan kepada PEOPLE.
“Meski hati kami hancur, kami menemukan penghiburan dengan mengetahui betapa dalamnya Peabo dicintai dan berapa banyak nyawa yang telah tersetuh oleh suara serta kebaikan jiwanya. Warisan dan musiknya akan terus hidup untuk generasi yang akan datang.”
Sang Pengisi Jiwa Dongeng Disney
Nama Peabo Bryson akan selalu abadi lewat beberapa tembang paling ikonis dalam sejarah sinema animasi Disney. Pada tahun 1991, kolaborasinya bersama penyanyi muda Kanada, Céline Dion, lewat lagu tema Beauty and the Beast, sukses meledak menjadi hit global dan membawa pulang piala Grammy.
Setahun kemudian, ia kembali memahat sejarah emas di industri musik saat berduet dengan Regina Belle dalam lagu A Whole New World untuk film Aladdin. Lagu tersebut menorehkan rekor fenomenal sebagai lagu tema film animasi pertama yang berhasil merajai takhta tertinggi di tangga lagu prestisius Billboard Hot 100sebuah rekor yang bertahan puluhan tahun sebelum akhirnya dipecahkan oleh lagu We Don’t Talk About Bruno dari film Encanto pada tahun 2022.
Bagi Bryson, lagu A Whole New World bukan sekadar musik pengiring film anak-anak, melainkan sebuah simbol kemanusiaan yang merepresentasikan setiap harapan dan janji manusia. Ia teringat kembali momen emosional saat membawakan lagu tersebut di sebuah panggung yang mengubah sejarah.
“Saya menyanyikannya di Afrika Selatan untuk pertama kalinya ketika warga kulit hitam Afrika Selatan diizinkan masuk dalam kontes kecantikan Miss South Africa,” kenang Bryson mengenai momen historis tersebut.
Berawal dari Salah Pengucapan Nama
Lahir dengan nama asli Robert Peapo Bryson di Greenville, Carolina Selatan pada tahun 1951, gairah bermusiknya sudah membara sejak usia dini. Kepada majalah Soul pada tahun 1978, ia sempat bercerita bahwa musik adalah satu-satunya hal yang benar-benar ingin ia geluti, meskipun sempat tebersit keinginan untuk menjadi seorang dokter saat harus menentukan arah karier di usia 14 tahun.
Pilihan tersebut awalnya sempat membuat sang ibu khawatir karena takut putranya akan terjerumus ke dalam lingkaran hitam ketergantungan obat-obatan yang kerap membayangi dunia hiburan masa itu. Namun, Bryson membuktikan dedikasi totalnya. Ia mulai bernyanyi secara profesional sejak remaja sebagai vokalis latar untuk kelompok musik lokal, Al Freeman and the Upsetters.
Uniknya, nama panggung “Peabo” yang ia sandang hingga akhir hayat lahir secara tidak sengaja karena sang pemimpin band kesulitan mengucapkan nama aslinya, Peapo. Kariernya mulai melesat saat ia tampil bersama Moses Dillard and the Tex-Town Display, hingga memikat label Bang Records untuk merilis album debutnya pada 1976 sebelum akhirnya ia hijrah ke Capitol Records.
Sang Manusia Renaisans Sejati
Sepanjang era 80-an hingga 90-an, Bryson terus mencetak hit demi hit di tangga lagu R&B dan Pop, mulai dari If Ever You’re in My Arms Again, Show & Tell, hingga Can You Stop the Rain. Ketika ditunjuk untuk mendampingi Céline Dion dalam Beauty and the Beast setelah para eksekutif Disney khawatir Dion yang saat itu masih baru membutuhkan pasangan duet yang lebih mapan Bryson menunjukkan kelasnya sebagai rekan duet yang brilian.
“Saya belajar itu dari melakukan duet. Kuncinya adalah memanfaatkan kekuatan dan kelemahan pasangan duet Anda secara seimbang. Jadi pada dasarnya itu menghasilkan situasi di mana tidak ada kelemahan karena Anda memanfaatkan keduanya secara seimbang,” tuturnya mengenai rahasia keharmonisan lagu-lagu duetnya.
Meski sukses besar dengan meraih delapan nominasi penghargaan Grammy, Bryson tidak menutup mata terhadap realitas industri. Ia kerap melayangkan kritik tajam terhadap industri musik yang dinilainya terlalu mengagungkan usia muda ketimbang pengalaman, serta menyayangkan sikap saluran seperti MTV yang enggan memutar karya musisi senior seperti dirinya dan Roberta Flack.
Enggan dikotakkan dalam satu genre yang kaku, Bryson selalu menegaskan fleksibilitasnya yang tinggi sebagai seorang seniman sejati.
“Saya tidak sreg dengan konsep satu dimensi tentang diri saya. Saya melihat diri saya sebagai manusia Renaisans sejati, tidak ada hal yang tidak bisa saya lakukan,” ujarnya kepada Los Angeles Times pada tahun 1994.
Hingga akhir hayatnya, musisi yang sempat pulih total dari serangan jantung parah pada tahun 2019 ini telah menelurkan total 20 album studio. Peabo Bryson kini telah pergi, meninggalkan seorang istri, Tanya Boniface, serta dua orang anak, Linda dan Robert. Namun, suaranya yang selembut beledu akan tetap terbang tinggi, membawa kita semua ke “sebuah dunia yang sepenuhnya baru” setiap kali nadanya mengalun.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














