NARASITODAY.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan untuk pertama kalinya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang menjadi perhatian pelaku pasar internasional.
Berdasarkan data perdagangan yang terpantau pada pukul 06.20 WIB, rupiah berada di level Rp18.001 per dolar AS atau melemah 0,43 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Dalam rentang 24 jam terakhir, mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh titik terlemah di level Rp18.013 per dolar AS.
Pelemahan ini sekaligus menandai jebolnya salah satu batas psikologis penting yang selama ini menjadi perhatian investor dan pelaku pasar. Kondisi tersebut memunculkan kembali berbagai spekulasi mengenai faktor-faktor yang memengaruhi tekanan terhadap rupiah.
Namun demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan mata uang nasional disebabkan oleh kondisi fiskal pemerintah yang dianggap bermasalah.
“Banyak yang bilang (rupiah melemah) gara-gara (kebijakan) fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Menurut Purbaya, kondisi fiskal Indonesia saat ini justru menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah peningkatan penerimaan pajak yang dinilai sebagai hasil dari reformasi perpajakan yang telah dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah perdebatan mengenai faktor domestik, sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang masih mendominasi pergerakan pasar keuangan global.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kekhawatiran investor terhadap konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Menurutnya, pasar saat ini mencermati risiko gangguan terhadap pasokan energi dunia yang dapat terjadi apabila ketegangan geopolitik terus meningkat. Selain itu, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan titik terang juga menambah ketidakpastian di pasar.
Situasi tersebut mendorong investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS, sehingga memperkuat posisi mata uang tersebut terhadap berbagai mata uang lainnya.
Pandangan serupa disampaikan pengamat mata uang Ariston Tjendra yang menilai peluang rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS memang semakin terbuka dalam beberapa waktu terakhir.
“Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah,” kata Ariston.
Kenaikan harga minyak mentah menjadi salah satu dampak langsung dari meningkatnya tensi geopolitik. Bagi negara-negara pengimpor energi, kondisi tersebut dapat memicu tekanan tambahan terhadap neraca perdagangan dan memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi.
Di pasar keuangan, level Rp18.000 per dolar AS bukan sekadar angka. Angka tersebut memiliki makna psikologis yang kerap menjadi indikator kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi dan prospek investasi suatu negara.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai pergerakan nilai tukar saat ini masih sangat dipengaruhi dinamika global yang berada di luar kendali pemerintah maupun otoritas moneter nasional. Perkembangan konflik Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta kondisi ekonomi dunia diperkirakan akan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah rupiah dalam waktu dekat.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan dari para pembuat kebijakan serta perkembangan geopolitik internasional yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang dan pasar keuangan global.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














