NARASITODAY.COM,TOKYO – Komunitas pelayaran Jepang menyambut positif tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuka jalan bagi pengaktifan kembali Selat Hormuz. Meski demikian, para pelaku industri raksasa tersebut memilih bersikap hati-hati.
Mereka masih menunggu rincian teknis implementasi perjanjian serta jaminan bersihnya jalur dari ranjau laut sebelum memberikan lampu hijau bagi kapal-kapal mereka untuk melintas.
Melansir Reuters pada Senin (15/6/2026), data dari Asosiasi Pelayaran Jepang menunjukkan bahwa saat ini masih ada 38 kapal yang memiliki keterkaitan dengan Jepang terombang-ambing dan tertahan di kawasan Selat Hormuz. Puluhan kapal tersebut terjebak akibat konflik bersenjata yang berkecamuk sejak akhir Februari lalu.
Perang yang pecah pada 28 Februari 2026 itu seketika melumpuhkan Selat Hormuz sebuah urat nadi kelautan dunia yang mengontrol pergerakan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global, serta komoditas penting seperti aluminium dan urea.
Kelegaan Pasar dan Kewaspadaan di Atas Gelombang
Kabar gencatan senjata ini ibarat angin segar bagi perekonomian global yang sempat mencekam. Sinyal perdamaian ini langsung direspons positif oleh pasar internasional, ditandai dengan merosotnya harga minyak dunia hingga sekitar 4% pada perdagangan Senin (15/6/2026), sesaat setelah kedua negara mengumumkan rencana penghentian konflik.
Namun, di balik layar monitor para kapten dan pemilik armada, atmosfer ketegangan belum sepenuhnya sirna. Laut yang tenang pasca-perang sering kali menyimpan bahaya tersembunyi.
Kekhawatiran terbesar industri saat ini adalah ancaman ranjau laut yang diduga masih tersebar dan hanyut di sepanjang jalur pelayaran strategis tersebut. Menabrak satu ranjau saja berarti bencana besar taruhannya.
Juru bicara Japanese Shipowners’ Association menegaskan bahwa pihak asosiasi tidak ingin gegabah dan tetap memprioritaskan keselamatan awak kapal serta kargo bernilai miliaran yen tersebut.
“Kami berharap mendapatkan informasi yang lebih konkret dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya terkait keputusan operasional yang akan diambil.
Pihak asosiasi juga menambahkan bahwa rincian perjanjian politik tidak serta merta mengubah situasi keamanan di air secara instan.
“Dengan kondisi saat ini, kami tidak bisa langsung mengatakan kapal-kapal dapat segera kembali beroperasi hanya berdasarkan kabar adanya kesepakatan,” kata perwakilan asosiasi tersebut.
Menanti Perjanjian Swiss dan Dampaknya bagi Jepang
Sesuai jadwal diplomatik, kesepakatan damai awal antara AS dan Iran ini baru akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni 2026 mendatang.
Raksasa pelayaran terbesar di Negeri Sakura, Nippon Yusen, secara terpisah menyatakan harapannya agar aktivitas logistik laut dapat kembali normal secepat mungkin. Kendati demikian, manajemen Nippon Yusen menilai masih terlalu dini untuk memastikan tanggal aman kapan armada mereka yang saat ini tertahan di kawasan Teluk Persia bisa kembali mengarungi Selat Hormuz. Pihak perusahaan juga memilih merahasiakan jumlah pasti kapal mereka yang terjebak di zona konflik tersebut.
Bagi Jepang, normalisasi jalur navigasi di Selat Hormuz adalah perkara hidup dan mati bagi stabilitas domestik. Sebagai negara yang miskin sumber daya alam, Jepang sangat bergantung pada pasokan impor energi dari kawasan Timur Tengah.
Gangguan yang berlarut-larut di selat ini tidak hanya berpotensi membengkakkan biaya logistik impor energi, tetapi juga menjadi ancaman nyata yang dapat menekan aktivitas ekonomi dan industri nasional secara keseluruhan.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














