NARASITODAY.COM, NAGPUR – Membayangkan hidup tanpa listrik selama satu atau dua jam saja sudah cukup membuat dahi berkerut. Namun, ribuan warga di Kota Nagpur, India, harus menelan pil pahit setelah dipaksa bertahan hidup hampir 24 jam penuh di tengah kegelapan dan udara yang memanggang, tanpa embusan angin dari kipas maupun pendingin ruangan (AC).
Pemadaman listrik massal ini melanda kawasan pemukiman padat seperti Futala, Bharat Nagar, dan beberapa wilayah sekitarnya. Ironisnya, malapetaka bagi aktivitas warga ini dipicu oleh kecerobohan teknis di lapangan. Sebuah kabel utama bawah tanah bertegangan tinggi dilaporkan tidak sengaja terhantam dan rusak parah saat proyek galian konstruksi sedang berlangsung.
Media lokal segera menyoroti kelumpuhan aktivitas yang terjadi di salah satu kota terpadat di negara bagian Maharashtra tersebut.
“Akibatnya, pasokan listrik terhenti selama hampir satu hari penuh bagi ribuan pelanggan,” tulis Times of India, Kamis, dikutip Jumat (19/6/2026).
Aktivitas Lumpuh dan Saling Lempar Tanggung Jawab
Dampak dari terputusnya aliran daya ini langsung memukul berbagai sektor. Di sektor rumah tangga, warga mengeluhkan rutinitas harian yang kacau balau karena air tidak mengalir dan bahan makanan membusuk di lemari es.
Cuaca panas ekstrem yang sedang melanda India memperparah penderitaan warga yang terjebak di dalam rumah. Sementara itu, roda ekonomi di sejumlah pertokoan, usaha mikro, dan fasilitas umum di wilayah terdampak juga terpaksa berhenti berputar.
Alih-alih segera menyelesaikan masalah pasca-insiden, kelumpuhan ini justru memicu polemik baru di ruang publik. Instansi-instansi kedinasan setempat dilaporkan saling tuding dan melempar tanggung jawab mengenai siapa yang paling bersalah dalam memastikan keamanan peta infrastruktur bawah tanah sebelum alat berat diturunkan ke lokasi proyek.
“Hingga kini, penyebab pasti dan pihak yang bertanggung jawab masih tetap terjadi,” tambah laman tersebut lagi.
Penyakit Lama Infrastruktur Kota
Bagi warga Nagpur, skenario mati lampu akibat proyek galian yang serampangan bukanlah hal baru. Dalam beberapa bulan terakhir, kota ini berulang kali didera pemadaman listrik skala besar dengan pola yang sama: alat berat konstruksi yang merusak jaringan transmisi bawah tanah karena minimnya koordinasi.
Meskipun perusahaan distribusi listrik setempat pada akhirnya berhasil merampungkan perbaikan darurat dan memulihkan pasokan daya secara bertahap, insiden ini menyisakan catatan merah.
Peristiwa ini kembali menelanjangi rapuhnya sistem manajemen infrastruktur perkotaan serta buruknya komunikasi antarinstansi dalam pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas publik di India.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













