AS dan Iran Sepakat Hentikan Sementara Serangan, Lanjutkan Perundingan Selat Hormuz

0
Iran
Ilustrasi Selat Hormuz.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan sementara aksi saling serang di kawasan Teluk serta kembali melanjutkan perundingan terkait sengketa dan stabilitas di Selat Hormuz. Kesepakatan ini memberi harapan baru bahwa upaya gencatan senjata sementara yang sebelumnya terancam gagal masih dapat dipertahankan.

Seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan kedua pihak sepakat meredakan ketegangan dan membuka kembali jalur komunikasi teknis terkait nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang telah disepakati pada 17 Juni lalu.

“Perundingan teknis dijadwalkan terus berlanjut mengenai seluruh aspek nota kesepahaman. Untuk saat ini kedua belah pihak akan menghentikan aksi militer dan kapal-kapal dapat kembali melintas dengan bebas,” kata pejabat tersebut, dikutip dari CNN International, Senin (29/6/2026).

Kesepakatan 14 poin yang menjadi dasar perundingan itu sebelumnya mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional, jalur strategis yang selama konflik sempat mengalami gangguan serius.

Baca Juga :  Amerika Serikat Ajukan Permintaan Blanket Overflight Clearance ke Indonesia, Kontroversi Mewarnai Hubungan Bilateral

Media Axios melaporkan bahwa pembicaraan lanjutan antara Washington dan Teheran akan digelar kembali pada Selasa di Qatar. Laporan tersebut mengutip sumber pejabat senior Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka meski situasi sempat memanas.

Ketegangan antara kedua negara meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah insiden pada Kamis, ketika sebuah proyektil Iran menghantam kapal kargo di Selat Hormuz. Kedua pihak kemudian saling menuduh telah melanggar gencatan senjata sementara yang disepakati sebelumnya pada 17 Juni.

Pada Minggu dini hari, Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain. Serangan itu terjadi tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika tidak mematuhi kesepakatan penghentian konflik.

Baca Juga :  Wakil Presiden AS JD Vance Sebut Kesepakatan dengan Iran Hampir Tercapai

Di tengah eskalasi tersebut, Israel juga melanjutkan operasi militernya terhadap kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Pemerintah Israel menyebut serangan terbaru itu menghancurkan infrastruktur bawah tanah yang digunakan kelompok tersebut di wilayah Lebanon selatan.

Serangan Israel terjadi hanya sehari setelah kesepakatan gencatan senjata baru dengan Lebanon pada Jumat, yang sebelumnya diharapkan dapat menurunkan eskalasi konflik regional.

Iran sendiri menegaskan bahwa stabilitas di Lebanon menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlangsungan kesepakatan yang lebih luas di kawasan.

Sementara itu, militer Amerika Serikat juga disebut kembali melakukan serangan terhadap target di Iran, hanya beberapa jam setelah insiden penyerangan kapal tanker di Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia dan selama konflik sempat mengalami pembatasan aktivitas.

Baca Juga :  Peringati Tahun Baru Islam, Ketua DPRD Rudy Susmanto Ajak Masyarakat Tingkatkan Keimanan

Sebelum laporan kesepakatan penghentian permusuhan ini muncul, Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras melalui media sosial.

“Mungkin akan tiba saatnya ketika kami tidak lagi dapat bersikap masuk akal, dan kami akan dipaksa untuk menyelesaikan secara militer pekerjaan yang telah kami mulai dengan sangat berhasil,” tulis Trump. “Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!”

Kesepakatan sementara 14 poin yang menjadi dasar perundingan saat ini sebelumnya dirancang untuk menghentikan eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari, sekaligus memastikan Selat Hormuz tetap terbuka selama proses diplomasi berlangsung.

Meski situasi masih rapuh, dimulainya kembali jalur negosiasi di Qatar menjadi sinyal bahwa kedua negara masih melihat ruang untuk meredakan ketegangan di salah satu kawasan paling sensitif di dunia tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com