NARASITODAY.COM,TOKYO – Gempa bumi kuat mengguncang wilayah timur laut Jepang pada Kamis (25/6/2026) pagi waktu setempat. Guncangan yang semula dilaporkan bermagnitudo 6,9 itu kemudian direvisi menjadi magnitudo 7,2 oleh otoritas meteorologi Jepang.
Getaran gempa yang berpusat di lepas pantai Pasifik Prefektur Iwate pada pukul 07.30 waktu setempat itu terasa hingga Tokyo dan sejumlah wilayah lain di Jepang. Meski cukup kuat, pemerintah memastikan tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan serta tidak ditemukan gangguan pada fasilitas nuklir di kawasan terdampak.
Badan Meteorologi Jepang melaporkan, gempa terjadi pada kedalaman sekitar 50 kilometer. Sejumlah wilayah seperti Hashikami dan Hachinohe di Prefektur Aomori mencatat intensitas tertinggi, yakni level 6 atas pada skala seismik Jepang yang memiliki rentang hingga level 7.
Pada level tersebut, kondisi di lapangan digambarkan sangat kuat hingga seseorang tidak dapat berdiri atau bergerak tanpa merangkak. Perabot yang tidak terpasang kuat berpotensi bergeser, bahkan jatuh atau terbalik.
Intensitas lain tercatat mencapai level 5 atas di wilayah Sannohe (Aomori) serta Kota Morioka dan sejumlah area di Prefektur Iwate. Getaran juga dirasakan di berbagai prefektur lain seperti Hokkaido, Akita, Fukushima, Miyagi, hingga Yamagata, bahkan hingga ibu kota Tokyo.
Meski guncangan meluas, Badan Meteorologi Jepang menegaskan tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan pascagempa tersebut.
Dari sektor infrastruktur energi, pemerintah bersama operator fasilitas nuklir segera melakukan pemeriksaan menyeluruh. Hasil awal menunjukkan tidak adanya kelainan pada sejumlah fasilitas penting.
Tidak ditemukan gangguan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Higashidori di Aomori maupun PLTN Onagawa di Miyagi. Operator juga memastikan PLTN Fukushima Daiichi dan Fukushima Daini di Prefektur Fukushima tetap dalam kondisi aman.
Pemeriksaan turut dilakukan pada fasilitas pengolahan ulang bahan bakar nuklir bekas serta lokasi penyimpanan sementara di Aomori. Seluruhnya dilaporkan beroperasi normal tanpa indikasi kerusakan.
Di sektor transportasi, operator JR East menghentikan sementara layanan Tohoku Shinkansen yang menghubungkan Tokyo dan Shin-Aomori sebagai langkah keselamatan. Penghentian dilakukan untuk inspeksi jalur dan infrastruktur rel pascaguncangan.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan layanan kereta cepat tersebut akan kembali beroperasi normal.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pemerintah tengah mengumpulkan informasi untuk menilai dampak gempa secara menyeluruh. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.
“Kami meminta masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa dengan magnitudo serupa,” ujar Takaichi kepada wartawan di kantornya.
Meski tidak menimbulkan tsunami maupun kerusakan besar yang langsung terkonfirmasi, gempa ini kembali mengingatkan Jepang pada kerentanannya terhadap aktivitas seismik. Negara yang berada di Cincin Api Pasifik itu kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa bumi dapat berguncang kapan saja bahkan di tengah rutinitas pagi yang baru dimulai.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














