Kilang Minyak Strategis Moskow Lumpuh Usai Serangan Drone, Rusia Hadapi Tekanan Pasokan Energi

0
Rusia
Ilustrasi bendera rusia. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, MOSKOWRusia menghadapi tekanan baru pada sektor energinya setelah salah satu kilang minyak terpenting di wilayah Moskow mengalami kerusakan parah akibat serangan drone Ukraina. Fasilitas yang menjadi pemasok utama bahan bakar untuk ibu kota Rusia itu diperkirakan tidak akan kembali beroperasi setidaknya selama enam bulan ke depan.

Kondisi tersebut memperdalam kekhawatiran pemerintah Rusia di tengah meningkatnya gangguan pasokan bahan bakar di berbagai wilayah, termasuk di kawasan metropolitan yang selama ini sangat bergantung pada produksi kilang tersebut.

Dua sumber industri yang mengetahui kondisi fasilitas itu mengatakan tingkat kerusakan akibat serangan terbaru sangat serius dan membutuhkan waktu panjang untuk pemulihan.

“Akan membutuhkan setidaknya setengah tahun untuk memperbaikinya,” kata salah satu sumber industri mengenai tingkat kerusakan yang dialami kilang Moskow, dilansir Reuters.

Kilang yang terletak di wilayah selatan pinggiran Moskow itu diketahui telah dua kali menjadi target serangan drone Ukraina dalam sebulan terakhir. Serangan tersebut memaksa penghentian total operasional fasilitas yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung pasokan bahan bakar di ibu kota Rusia.

Baca Juga :  52 Atlet Anggar Indonesia Ikuti Seleknas untuk Persiapan Kejuaraan Asia dan SEA Games 2025

Perusahaan energi Rusia, Gazprom Neft, yang mengelola kilang tersebut, belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi fasilitas maupun estimasi waktu pemulihan operasional.

Kerusakan pada kilang Moskow ini terjadi di tengah intensifikasi serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia. Dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv meningkatkan penggunaan drone jarak jauh untuk menyerang fasilitas energi sebagai bagian dari upaya menekan kapasitas ekonomi dan logistik Moskow.

Sebaliknya, Rusia juga terus melancarkan serangan rudal terhadap target energi dan pertahanan di wilayah Ukraina, menjadikan sektor energi sebagai salah satu medan utama konflik berkepanjangan kedua negara.

Menurut sumber industri, rangkaian serangan tersebut telah memangkas kapasitas pengolahan minyak Rusia secara signifikan. Dampaknya mulai terasa luas, mulai dari kelangkaan bahan bakar, kenaikan harga di sejumlah wilayah, hingga antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar.

Baca Juga :  Tantang Hegemoni Barat, Aliansi Rusia-China-Iran Gelar Latihan Perang di Teluk Oman

Gangguan distribusi dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Rusia yang membentang di 11 zona waktu, menunjukkan luasnya dampak terhadap sistem energi nasional.

Kilang Moskow sendiri bukan kali pertama menjadi sasaran. Fasilitas tersebut telah beberapa kali diserang sejak Ukraina memperluas kampanye drone terhadap infrastruktur energi Rusia.

Berdasarkan data terbaru, pada 2024 kilang tersebut mengolah sekitar 11,6 juta ton minyak mentah. Dari jumlah itu, fasilitas ini menghasilkan sekitar 2,9 juta ton bensin dan 3,2 juta ton solar, menjadikannya salah satu aset energi paling vital bagi pasokan bahan bakar di wilayah ibu kota dan sekitarnya.

Baca Juga :  Ladang Minyak Shah Abu Dhabi Diterjang Drone, Operasi Dihentikan di Tengah Gejolak Regional

Di tengah tekanan yang meningkat, pemerintah Rusia mulai mempertimbangkan langkah darurat untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyebut pemerintah tengah mengkaji opsi pembatasan ekspor bahan bakar tertentu.

Langkah tersebut, termasuk kemungkinan larangan ekspor diesel, dipertimbangkan untuk memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi di tengah krisis pasokan yang berkembang.

Sementara itu, media Rusia Vedomosti melaporkan pemerintah juga mempertimbangkan opsi impor bahan bakar guna menutup kekurangan pasokan di beberapa wilayah.

Laporan tersebut menyebut salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Krimea, di mana penjualan bensin kepada masyarakat dilaporkan telah dihentikan akibat keterbatasan pasokan.

Dengan salah satu kilang kunci yang lumpuh dan tekanan serangan yang terus berlangsung, Rusia kini menghadapi tantangan serius dalam menjaga stabilitas energi di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com