NARASITODAY.COM, NEW DELHI – India menghadapi tantangan besar dalam menerapkan kebijakan wajib penggunaan bensin campuran etanol 20% (E20), yang menuai penolakan luas dari masyarakat dan menjadi salah satu isu politik utama di tengah posisi India sebagai pasar otomotif terbesar ketiga di dunia.
Kebijakan ini mulai diberlakukan tahun lalu sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor minyak mentah dan mendukung penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Namun, pekan ini, ketegangan semakin memuncak setelah Jaksa Agung India, R. Venkataramani, menyebut E20 sebagai sebuah “eksperimen” dalam persidangan yang hasil akhirnya baru akan diketahui tahun depan. Pernyataan tersebut langsung memicu kontroversi besar.
Rekaman Video yang Menggemparkan dan Klarifikasi Pemerintah
Rekaman video yang memperlihatkan Venkataramani mengucapkan kata “eksperimen” kemudian beredar luas di media sosial, menimbulkan kemarahan publik. Menanggapi hal tersebut, Venkataramani menjelaskan kepada Reuters pada Jumat (3/7/2026) bahwa istilah “eksperimen” yang digunakannya merujuk pada aspek pasokan etanol, bukan terhadap kebijakan penggunaan bensin E20 secara keseluruhan.
“Maksud saya adalah soal pasokan etanol, bukan kebijakan E20,” ujarnya. Meski begitu, penjelasan ini belum mampu meredakan kekhawatiran masyarakat yang menganggap pemerintah terlalu tergesa-gesa menerapkan kebijakan ini tanpa kajian yang cukup.
Kritik dan Aksi Demonstrasi
Pemerintah membantah adanya kekhawatiran tersebut dan menyebut kritik yang muncul sebagai “klaim-klaim liar”. Kantor pers pemerintah bahkan mengimbau masyarakat agar “tidak terpancing oleh provokasi yang sengaja memancing kemarahan.”
Di tengah ketegangan ini, Menteri Perminyakan India, Hardeep Singh Puri, mencoba menenangkan kekhawatiran publik. Ia membandingkan penggunaan etanol dengan bahan bakar yang digunakan pada mobil balap.
“Bahan bakar etanol juga digunakan pada mobil balap. Akselerasinya justru meningkat. Memang konsumsi bahan bakarnya mungkin sedikit lebih boros,” katanya. Pernyataan ini diharapkan mampu meyakinkan masyarakat bahwa penggunaan E20 tetap aman bagi kendaraan mereka.
Namun, penolakan terus menguat. Tokoh masyarakat dan pendukung Partai Kongres, Tehseen Poonawalla, mengungkapkan bahwa mereka tengah menyiapkan aksi protes di New Delhi pada Minggu (5/7/2026). Ia menyebutkan, “Ribuan orang telah menyatakan minat untuk bergabung dalam demonstrasi tersebut.”
Banyak pengendara mengeluhkan penurunan efisiensi bahan bakar dan meningkatnya keausan komponen kendaraan setelah menggunakan bensin E20. Salah satu video yang viral menunjukkan seorang pengendara, Manish Kashyap, mengeluh di bengkel. Ia mengatakan, “Saya telah mengeluarkan banyak uang untuk membeli mobil ini dan membayar pajak, tetapi setelah dua bulan mobil saya justru tidak bisa digunakan.”
Pemerintah Tekankan Manfaat dan Strategi Jangka Panjang
Di tengah kritik keras, pemerintah tetap teguh pada kebijakan E20. Mereka menegaskan bahwa penggunaan bensin campuran etanol memiliki manfaat besar, seperti mengurangi emisi karbon, menekan impor minyak, serta mendukung petani dengan meningkatkan permintaan bahan baku pertanian untuk produksi etanol.
“Transisi menuju bahan bakar berbasis etanol adalah bagian dari strategi jangka panjang kami untuk memperkuat ketahanan energi dan mencapai target pengurangan emisi karbon,” ujar seorang pejabat pemerintah.
Dengan berbagai tantangan yang muncul, pemerintah India berusaha menjaga kestabilan dan kepercayaan masyarakat. Namun, dinamika ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan energi yang besar tidak hanya membutuhkan perencanaan matang, tetapi juga komunikasi yang efektif agar masyarakat dapat memahami manfaat dan risiko yang ada.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id













