Otoritas dan Warga Kristen Lebanon Keras Bantah Klaim Netanyahu tentang Permintaan Perlindungan dari Israel

0
Kristen di Lebanon
Ilustrasi Markah tanah terkenal di pusat kota Beirut.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BEIRUT – Bangunan yang hancur akibat serangan artileri, riak kemarahan baru justru tersulut bukan oleh desingan peluru, melainkan oleh kata-kata. Otoritas dan warga desa Kristen di Lebanon selatan melayangkan protes keras guna membantah klaim sepihak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyebut mereka meminta wilayahnya dicaplok (dianeksasi) oleh Tel Aviv.

Tuduhan sepihak ini langsung memicu gelombang kecaman di Beirut. Bagi masyarakat setempat, klaim tersebut dinilai sebagai taktik usang untuk menyulut api perang saudara di tengah ketegangan militer yang masih membara.

Mengutip laporan Al Jazeera, kemarahan ini bermula dari pernyataan Netanyahu dalam program televisi internasional yang mengklaim beberapa komunitas Kristen meminta perlindungan militer Israel dari kelompok Hizbullah. Merespons narasi tersebut, pejabat dari 15 kota berpenduduk Kristen di Lebanon selatan langsung merilis maklumat bersama untuk menegaskan kesetiaan mereka pada kedaulatan Lebanon.

“Beberapa desa Kristen di Lebanon sebenarnya telah meminta untuk dianeksasi ke Israel, karena kami melindungi mereka dari Hizbullah, para fanatik Hizbullah yang ingin membunuh mereka, dan kami melakukan hal yang sama kepada umat Kristen di mana pun,” klaim Netanyahu dalam program The Sunday Briefing di saluran Fox News.

Strategi Klasik Memecah Belah Persatuan

Baca Juga :  Dua Lipa Putuskan Berpisah dari Manajer David Levy, Sikap Politik Jadi Pemicu

Sejumlah analis politik menilai klaim tersebut murni fabrikasi untuk memanfaatkan sensitivitas sistem kuota sektarian di pemerintahan Lebanon, terutama setelah agresi Israel memaksa 1.200.000 warga mengungsi dari rumah mereka.

Profesor hubungan internasional dari Saint Joseph University of Beirut, Karim Emile Bitar, menyebut sang perdana menteri sengaja menghidupkan kembali strategi klasik adu domba guna memecah belah persatuan nasional yang sedang rapuh.

Klaim Netanyahu mencerminkan sinismenya dan fakta bahwa dia adalah seorang pembohong patologis,” kecam Bitar saat diwawancarai oleh Al Jazeera.

“Ini tampaknya jelas dimaksudkan untuk menabur perang saudara di Lebanon, untuk mengadu domba sesama warga Lebanon guna mempromosikan gagasan bahwa Israel dapat menjadi pelindung minoritas tertentu,” lanjut Bitar.

Baca Juga :  Satpol PP Luncurkan Inovasi Masgana Perkuat Kesiapsiagaan Linmas Hadapi Bencana

Realitas Kontras di Garis Depan perbatasan

Narasi perlindungan yang dilemparkan Netanyahu terasa sangat kontras dengan realitas mengerikan yang dihadapi warga di garis depan perbatasan. Data dari lembaga Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) justru menunjukkan bahwa desa-desa Kristen di sepanjang perbatasan kerap menjadi korban hantaman bom dan artileri pasukan Israel secara membabi buta.

Manajer penelitian ACLED, Nasser Khdour, mengungkapkan kehancuran infrastruktur sipil terjadi masif di wilayah Rachaya al-Fakhar, Debel, dan Aalma Ech Chaab, termasuk insiden vandalisme patung Yesus oleh tentara Israel pada April lalu.

“Meskipun desa-desa dan partai-partai Kristen menentang kebijakan Hizbullah, itu tidak berarti mereka ingin menjadi bagian dari Israel,” tegas Khdour terkait sentimen psikologis warga lokal.

Bantahan senada juga disuarakan lantang oleh para pejabat tinggi dan kepala daerah di Lebanon. Anggota Parlemen Lebanon dari faksi Kristen Ortodoks Yunani, Melhem Khalaf, menggelar konferensi pers darurat untuk menyatakan bahwa pemimpin Israel tersebut sama sekali tidak memiliki hak berbicara atas nama komunitas mereka.

Baca Juga :  Tiba-tiba China Tutup Wilayah Udara Strategis Laut China Timur dan Kuning, Apa Alasannya?

Sikap tegas ini juga disuarakan oleh pemimpin lokal di akar rumput yang wilayahnya bersentuhan langsung dengan zona konflik.

“Tidak ada satu pun desa di wilayah Selatan yang mengajukan permintaan seperti itu,” cetus Hanna al-Amil, Kepala Kota Rmeish yang bermayoritas Kristen, saat diwawancarai surat kabar lokal L’Orient-Le Jour.

Penolakan keras warga ini diperkuat oleh hasil jajak pendapat dari Lebanese American University pada Juni 2026, yang menunjukkan bahwa 87% warga Lebanon sepakat memandang Israel sebagai musuh bersama, tanpa memandang latar belakang agama.

Bagi warga Lebanon, bermanuver menggunakan isu minoritas ini bukanlah barang baru. Pola serupa tercatat pernah digunakan Israel saat menggunakan dalih perlindungan komunitas Druze untuk membom Damaskus, Suriah, pada tahun lalu. Kini, lewat maklumat bersama, warga Kristen Lebanon menegaskan bahwa tanah mereka adalah bagian tak terpisahkan dari kedaulatan Lebanon.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com