Suhu Ekstrem dan Kualitas Udara Buruk Jadi Penyebab Kematian Massal di Belanda

0
ekstrem
Ilustrasi panas matahari.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, AMSTERDAM Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Belanda dalam kurun waktu dua pekan menyebabkan 911 orang meninggal dunia. Laporan Institut Nasional Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda (RIVM) menyebut sebagian besar korban merupakan warga lanjut usia yang tinggal di wilayah dengan suhu tinggi.

Berdasarkan catatan RIVM, sebanyak 586 kematian terjadi pada periode 22-28 Juni, sementara 325 kasus lainnya tercatat pada 29 Juni hingga 5 Juli. Total angka kematian selama periode tersebut mencapai 911 kasus.

RIVM menyatakan kasus kematian itu “sangat mungkin” berkaitan dengan dampak gelombang panas, meski penyebab pasti setiap kematian masih dalam proses penyelidikan, seperti dikutip Anadolu Agency, Rabu (15/7/2026).

Baca Juga :  Lumpuh di Bawah Cengkeraman Badai Fern: 400.000 Warga AS Terjebak Suhu Ekstrem Tanpa Listrik

Sebagian besar korban diketahui berusia di atas 80 tahun. Menurut RIVM, kelompok lanjut usia memiliki risiko lebih tinggi saat suhu ekstrem karena kemampuan tubuh dalam mengatur panas mengalami penurunan.

Lansia cenderung lebih sulit berkeringat, lebih mudah mengalami dehidrasi, serta memiliki fungsi organ yang tidak seoptimal kelompok usia lebih muda. Risiko juga meningkat bagi masyarakat dengan penyakit kronis, terutama gangguan jantung, pembuluh darah, dan paru-paru.

Selain suhu tinggi, RIVM menyebut buruknya kualitas udara selama periode panas turut memperbesar ancaman kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan.

Gelombang panas tersebut membuat badan meteorologi Belanda mengeluarkan peringatan cuaca tingkat tertinggi untuk pertama kalinya. Suhu di sejumlah wilayah bahkan mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius.

Baca Juga :  Mengapa Kita Meremehkan Diri Sendiri? Ini 5 Sebab Utama yang Perlu Anda Ketahui

Dampak Panas Meluas di Eropa

Belanda bukan satu-satunya negara Eropa yang terdampak cuaca ekstrem. Dalam beberapa bulan terakhir, gelombang panas juga melanda sejumlah wilayah lain seperti Prancis dan Jerman.

Jaringan pemantauan angka kematian Eropa, European Mortality Monitoring (EuroMOMO), mencatat lebih dari 10.650 kematian di kawasan Eropa yang berkaitan dengan gelombang panas. Dari jumlah tersebut, lebih dari 9.000 kasus terjadi pada kelompok usia 65 tahun ke atas.

Kepala Dokter di Statens Serum Institut Denmark sekaligus penggagas EuroMOMO, Lasse Vestergaard, mengatakan tingginya angka kematian dalam periode tersebut merupakan kondisi yang tidak biasa.

Baca Juga :  5 Manfaat Buah Gambir yang Wajib Diketahui untuk Kesehatan Tubuh

“Terjadinya angka berlebih seperti ini di waktu seperti ini di tahun ini sungguh tidak biasa. Angkatannya sangat tinggi,” kata Vestergaard.

Ia menilai cuaca panas ekstrem menjadi faktor utama yang paling mungkin menjelaskan peningkatan angka kematian tersebut.

“Sulit untuk menjelaskan angka kematian berlebih (excess) yang tinggi ini selain karena cuaca panas ekstrem,” imbuhnya.

Peningkatan suhu ekstrem menjadi perhatian serius bagi sejumlah negara Eropa karena dampaknya tidak hanya memengaruhi aktivitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan tekanan terhadap layanan kesehatan. Di tengah perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu, kelompok lanjut usia dan warga dengan kondisi kesehatan tertentu menjadi pihak yang paling membutuhkan perlindungan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com