NARASITODAY.COM, BORDEAUX – Gelombang panas ekstrem dan kekeringan panjang akibat perubahan iklim memicu bencana kebakaran hutan dahsyat di Eropa Selatan. Pada Sabtu (25/7/2026), amukan si jago merah di pesisir barat daya Prancis terus bergerak kian dekat ke pedalaman menuju Kota Bordeaux, sementara angin kencang di negara tetangga, Spanyol, menyulitkan upaya pemadaman api raksasa yang mengepung ibu kota Madrid.
Bencana alam ini telah memaksa evakuasi massal ratusan ribu warga di kedua negara. Di wilayah Gironde dan Landes dekat Bordeaux, sekitar 197.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak kebakaran pecah pekan ini. Sementara di Spanyol, lebih dari 63.000 warga dievakuasi atau diminta tetap mengurung diri di dalam rumah akibat tiga titik api utama.
Skala bencana yang melonjak drastis ini memicu perhatian tertinggi dari pucuk pimpinan pemerintah.
“Kebakaran yang melanda negara kita telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu melalui akun Twitter miliknya.
Perjuangan Panjang di Pintu Gerbang Bordeaux
Kawasan pesisir dekat Bordeaux yang dikenal sebagai pusat pariwisata berhutan pinus lebat dan kaya akan kebun anggur ternama kini diselimuti ancaman hebat. Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengonfirmasi bahwa posisi kobaran api kini hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari Bordeaux.
Meskipun kondisi sempat relatif tenang pada Sabtu pagi, Nunez memperingatkan bahwa angin kencang diperkirakan kembali bertiup pada sore hari yang berpotensi memperluas wilayah tumpuran api.
“Kami memperkirakan pertempuran yang akan berlangsung lama dan sangat sulit,” kata Laurent Nunez kepada wartawan, seraya mengumumkan bahwa Bandara Bordeaux telah resmi ditutup sementara dan pemerintah mengimbau warga menghindari perjalanan darat maupun kereta ke area tersebut.
Guna memperkuat brigade pemadam kebakaran yang sudah kewalahan, Angkatan Bersenjata Prancis kini resmi dikerahkan ke lokasi.
Situasi tak kalah kritis terjadi di Spanyol. Untuk pertama kalinya, pemerintah Spanyol menyatakan keadaan darurat nasional terkait kebakaran hutan. Angin kencang memperparah pergerakan tiga titik api besar, di mana dua di antaranya telah menyatu pada Jumat lalu di kawasan padat penduduk sebelah barat Madrid lokasi yang populer sebagai rumah kedua bagi warga ibu kota.
Ancaman kian nyata setelah titik api ketiga di Provinsi Avila berisiko ikut menyatu.
“Kebakaran ketiga di provinsi Avila mengancam akan bergabung dengan dua kebakaran di Madrid,” ungkap Nicanor Sen, perwakilan pemerintah untuk wilayah Castile dan Leon, kepada wartawan pada Jumat.
Saksi mata di lapangan menggambarkan betapa cepatnya api melahap permukiman. Esteban Carrasco, pemilik tempat perkemahan Monasterio de Pelayos di sebelah barat Madrid, menceritakan detik-detik mencekam saat api menerjang lokasinya pada Jumat lalu, hingga menghancurkan sekitar 30 rumah mobil dan memaksa evakuasi 200 pengunjung dari “latar belakang sederhana”.
“Ini adalah bencana yang mengerikan,” kata Esteban Carrasco kepada stasiun televisi nasional TVE, memperlihatkan kontras pilu di mana rumah mobil di satu sisi jalan hancur lebur sementara sisi lainnya selamat tanpa cela. Beruntung, tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.
Bantuan Uni Eropa dan Imbauan Kesehatan
Menghadapi krisis ini, Uni Eropa (UE) bergerak mengirimkan bantuan armada udara. Dinas Perlindungan Sipil Spanyol mengonfirmasi kedatangan empat pesawat penjatuh air pada Sabtu dua dari Italia dan dua dari Yunani menyusul pesawat pemadam dari Belanda dan Portugal yang sudah lebih dahulu beroperasi di langit Spanyol.
Meski kondisi langit Madrid pada Sabtu terlihat lebih cerah dibandingkan Jumat saat asap pekat menutupi kota, bahaya polusi udara masih mengintai rapat.
“Hindari aktivitas fisik dan berada di luar ruangan. Jika Anda pergi ke luar ruangan dan ada smoke atau abu, gunakan masker,” imbau Menteri Kesehatan Spanyol Monica Garcia melalui unggahan di platform X.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













