Penyebab dan Gejala Penyakit ADHD Seperti yang Diderita Fuji An

0
FUJI

NARASITODAY.COM – Selebgram Fujianti Utami Putri, yang akrab disapa Fuji An, baru-baru ini mengumumkan bahwa dia telah didiagnosis penyakit attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Meskipun menerima diagnosis ini, Fuji An menyatakan kebanggaannya karena ia melihat ADHD membawa dampak positif terhadap kreativitas dan produktivitasnya.

“Dengan ADHD ini, aku merasa bangga karena justru membuatku lebih kreatif, produktif, dan selalu berpikir. Aku menikmati proses menjadi lebih kreatif,” ungkap Fuji An.

Lantas apa itu attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD?

Melansir halodoc.com, Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah istilah medis untuk gangguan mental yang melibatkan perilaku impulsif dan hiperaktif. Gejala ADHD membuat sulit untuk fokus pada satu hal dalam satu waktu.

Baca Juga :  Antam Pongkor Gandeng APDESI Nanggung Bahas Kemajuan Pembangunan Melalui CSR

Meskipun lebih umum terjadi pada anak-anak, gejala ADHD bisa bertahan hingga remaja dan dewasa. ADHD memiliki tiga subtipe:

  • Dominan Hiperaktif-Impulsif, yang biasanya disertai dengan hiperaktivitas dan perilaku impulsif.
  • Dominan Inatentif, yang ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian.
  • Kombinasi Hiperaktif-Impulsif dan Inatentif, yang menunjukkan ciri-ciri hiperaktivitas, impulsivitas, dan ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian.

Penyebab ADHD masih belum diketahui secara pasti oleh para ahli hingga saat ini. Namun, dugaan penyebabnya melibatkan ketidakseimbangan senyawa kimia dalam otak, faktor genetik, struktur otak, paparan neurotoksin selama kehamilan, serta merokok dan mengonsumsi alkohol selama kehamilan.

Beberapa faktor risiko ADHD yang perlu diperhatikan melibatkan faktor genetik, gangguan selama kehamilan, kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR), trauma kepala, dan paparan tinggi terhadap timbal pada anak-anak.

  • Gangguan neurologis
    Anak dengan riwayat gangguan neurologis atau kesehatan mental lainnya, seperti gangguan bipolar atau gangguan spektrum autisme, dapat memiliki risiko lebih tinggi mengembangkan ADHD.
  • Faktor lingkungan
    Lingkungan yang tidak mendukung, stres keluarga, paparan zat-zat kimia beracun, dan kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko ADHD.
Baca Juga :  Tengah Pulang Kerja, Warga Leuwiliang Jadi Korban Begal, Sepeda Motor Lenyap

Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara polusi udara dan peningkatan risiko ADHD pada anak-anak.

  • Kurang gizi dan istirahat
    Gizi yang tidak mencukupi atau defisiensi gizi tertentu selama masa pertumbuhan dan perkembangan anak dapat memengaruhi fungsi otak dan mempengaruhi risiko ADHD.

Kurang tidur atau gangguan tidur pada anak juga dapat memengaruhi konsentrasi dan perilaku, yang berkaitan dengan gejala ADHD.

Baca Juga :  Ditinggal Shalat Tarawih, Rumah di Ciomas Dibobol Maling, Ratusan Juta Raib 

Gejala ADHD

ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang kompleks yang dapat memengaruhi kemampuan fungsi tubuh pengidapnya dalam banyak aspek kehidupan. Seperti ketika sedang sekolah, bekerja, dan bahkan pada lingkungan rumah.

Lalu, apa yang dirasakan pengidap ADHD? Gejala ADHD pada anak, remaja, dan orang dewasa bisa berbeda.

Bahkan terkadang sulit untuk mengenali gejalanya. Dokter umumnya baru dapat mendiagnosa ADHD pada anak atau ketika usia remaja, dengan usia rata-rata 7 tahun.

Sementara itu, orang dewasa dengan kondisi ini mungkin telah menunjukkan gejala sejak usia anak atau remaja.

Hanya, orang tua kerap mengabaikan gejala yang muncul. Hal inilah yang selanjutnya menyebabkan diagnosa kerap terlambat. ***